Ada fase dalam hidup ketika bunyi notifikasi kantor bisa langsung mengubah suasana hati. Tadinya lagi makan enak. Ada chat dari bos: “Bisa telepon sebentar?” Mendadak ayam goreng di piring terasa seperti tanggung jawab tambahan.
Belum ditelepon saja, kepala sudah menyusun pembelaan. Salah apa lagi? Kurang apa lagi? Bukannya tadi sudah sesuai permintaan? Atau permintaannya sudah berubah, lalu kita diharapkan tahu lewat koneksi batin?
Malamnya berjanji, “Udah. Aku harus resign dari sini.”
Paginya baca tagihan masuk. Oke. Kita diskusikan lagi bulan depan.
Belakangan, situasi ini punya istilah: job hugging. Bertahan di pekerjaan karena meninggalkannya terasa terlalu berisiko. Namanya terdengar hangat. Seperti memeluk sesuatu yang kita sayangi. Padahal buat sebagian orang, rasanya seperti berpegangan pada kursi yang salah satu kakinya patah. Mau berdiri, takut jatuh. Mau tetap duduk, pinggang sudah protes.
Survei ResumeBuilder terhadap 2.188 pekerja Amerika Serikat pada Februari 2026 menemukan 57 persen responden mengidentifikasi diri sebagai job hugger, naik dari 45 persen pada Agustus 2025. Angka ini tentu bukan gambaran prevalensi di Indonesia. Namun, alasan bertahannya terasa akrab: takut kehilangan keamanan penghasilan ketika pasar kerja penuh ketidakpastian.
Dan di sini, ketidakpastian itu punya wajah yang sangat familiar hari-hari belakangan ini.
Wajah orang yang menunda periksa kesehatan karena budget untuk yang lain. Bapak yang menghitung ulang uang sekolah anaknya. Karyawan yang masih bisa membeli kopi, tetapi mulai takut melihat tanggal jatuh tempo.
“Kalau Toxic, Kenapa Nggak Keluar?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana kalau hidup orang lain tidak ikut kita bayar.
Di balik keputusan bertahan, bisa ada orang tua yang perlu berobat rutin. Ada cicilan rumah. Ada istri yang suaminya masih berjuang mencari pekerjaan. Ada anak yang kebutuhan bulanan tidak bisa ditunda sampai suasana ekonomi membaik.
Ada juga tabungan yang disebut dana darurat, padahal kalau dihitung lebih teliti, baru cukup untuk satu darurat ukuran sedang. Maka, setiap ajakan “pilih kesehatan mentalmu” bertemu dengan pertanyaan lanjutan: “Setelah resign, hidup mau pakai apa?”
Kesehatan mental penting. Menjaga penghasilan juga penting. Menyedihkan sekali ketika keduanya harus dipertandingkan setiap Senin pagi.
Orang bisa sangat sadar bahwa tempat kerjanya merusak dirinya. Ia tahu bahwa dipermalukan di depan tim bukan evaluasi yang sehat. Ia tahu pesan tengah malam yang wajib segera dibalas sudah mengambil waktu istirahatnya. Ia tahu bosnya menggunakan kata “keluarga” setiap membutuhkan pengorbanan tambahan.
Kesadaran itu sudah ada.
Yang belum ada adalah pegangan untuk pergi.
Kelas Menengah dan Kemampuan Terlihat Baik-baik Saja

Kelas menengah punya satu keterampilan yang jarang masuk CV: tetap terlihat berfungsi saat sedang ketakutan. Masih masuk kantor. Masih bayar ini-itu. Masih membalas “aman” ketika ditanya kabar. Padahal di kepala ada spreadsheet yang tidak pernah ditutup.
Kalau bulan depan terjadi sesuatu, berapa lama kita bisa bertahan?
Dalam tulisan UGM pada Februari 2026 yang mengutip laporan Mandiri Institute, jumlah kelas menengah Indonesia disebut turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta pada 2025. Ulasan itu juga menyoroti rapuhnya keamanan ekonomi keluarga ketika pekerjaan dan penghasilan tidak menyediakan cukup ruang untuk menghadapi guncangan.
Buatku, bagian yang paling mengganggu adalah menyempitnya ruang memilih.
Dulu mungkin kita masih berani mempertimbangkan untuk pindah kerja. Sekarang, melihat lowongan saja bisa disertai kekhawatiran: perusahaannya sehat? Kontraknya bagaimana? Kalau sudah melepas yang sekarang lalu yang baru ternyata bermasalah, siapa yang menanggung?
Setahun terakhir terasa seperti hidup dengan bahu yang terus terangkat. Belum selesai satu kecemasan, sudah datang kabar berikutnya.
Lama-lama, ambisi itu mengecil. Dari ingin berkembang menjadi ingin aman sampai gajian berikutnya.
Lalu, apa hubungannya dengan pemerintah?
Hubungannya ada pada rasa aman yang seharusnya ikut dibangun oleh negara.
Keputusan tentang pekerjaan tidak berlangsung di ruang hampa. Kita mengambilnya di tengah harga kebutuhan, akses layanan kesehatan, kualitas transportasi, perlindungan kerja, dan keyakinan bahwa kalau jatuh, masih ada sesuatu yang menahan. Ketika bantalan itu semakin tipis, gaji dari tempat kerja yang menyakitkan pun menjadi pegangan yang sulit dilepas.
Di titik ini, politik masuk ke ruang makan. Ke percakapan pasangan sebelum tidur. Ke keputusan menunda resign meskipun tubuh sudah keberatan untuk berangkat.
Maka ketika pemerintah terdengar sibuk menjelaskan bahwa semuanya terkendali, sementara warga terus menghitung cara bertahan, jaraknya terasa menyakitkan. Tone-deaf itu terasa ketika orang meminta perlindungan, tetapi yang sampai justru nasihat agar lebih tangguh.
Kita sudah tangguh. Sampai hafal cara menangis sebentar sebelum mulai meeting, lalu masuk ruangan dengan suara normal. Masa kemampuan ini mau dijadikan rencana pembangunan?
Kalimantan Masih Berasap. Warga Tetap Harus Hidup.
Karhutla membuat persoalan ini terasa semakin nyata.
Laporan Reuters pada 22 Oktober 2026 menyebut kebakaran masih berlangsung meskipun titik panas menurun. Pemerintah telah mengerahkan personel dan pesawat penanganan, sementara mahasiswa di sejumlah kota di Kalimantan memprotes respons pemerintah.
Ada pemadaman yang dilakukan. Petugas di lapangan juga mempertaruhkan tenaga dan keselamatan. Namun, publik berhak menuntut lebih jauh: seberapa efektif perlindungannya? Seberapa serius penanganannya? Bagaimana pencegahannya? Siapa yang dimintai pertanggungjawaban? Sampai kapan warga harus menunggu udara yang aman?
Warga yang menghirup asap juga punya jadwal masuk kerja. Punya anak. Punya kebutuhan yang tetap berjalan ketika lingkungan tempat tinggalnya sedang tidak baik-baik saja.
Melihat itu, aku sulit menerima kalau ukuran kehadiran pemerintah berhenti pada pernyataan dan dokumentasi kegiatan. Kehadiran harus bisa dirasakan dalam kehidupan yang lebih terlindungi.
Ketika warga terus menanggung risikonya, wajar jika muncul kesan bahwa keselamatan mereka kalah penting dibandingkan dengan urusan kekuasaan dan kepentingan kelompok. Kesan itu seharusnya dijawab dengan hasil yang bisa diperiksa. Kepercayaan publik membutuhkan bukti nyata.
Boss Toxic yang Ikut Menikmati Ketakutan Ini
Di kantor, rasa takut kehilangan penghasilan bisa memberi ruang lebih besar bagi perilaku buruk. Kalimat “di luar banyak yang mau menggantikan kamu” menjadi ancaman yang efektif ketika orang memang sedang susah mencari alternatif.
Pekerja kemudian berpikir dua kali sebelum menolak beban tambahan. Menelan keberatan. Membatalkan cuti. Menjawab pesan saat sedang sakit.
Perusahaan mungkin melihat karyawan tetap tinggal dan menganggap situasinya baik-baik saja. Padahal, orang yang masih hadir belum tentu masih punya tenaga. Sebagian sedang menghabiskan dirinya sedikit demi sedikit agar kehidupan di rumah tetap berjalan. Dan aku rasa kita perlu berhenti menyebut semua itu sebagai loyalitas.
Sampai kapan Job Hugging ini berakhir?
Aku ingin punya jawaban yang menenangkan. Sayangnya, penderitaan tidak memiliki fitur track shipment. Kita tidak bisa mengecek kapan keadaan yang lebih layak akan segera datang.
Tetapi pertanyaan “sampai kapan?” pantas terus diajukan. Kepada perusahaan yang membiarkan perundungan. Kepada pemerintah yang kebijakannya belum memberi cukup perlindungan. Kepada siapa pun yang menikmati kuasa sambil menyerahkan biaya kegagalannya kepada orang lain.
Perubahan membutuhkan tempat kerja yang aman, penegakan perlindungan kerja, kesempatan kerja yang layak, dan layanan publik yang membuat orang tidak langsung limbung ketika penghasilannya terganggu.
Sementara itu, buat kamu yang masih bertahan, semoga ada ruang kecil untuk menjaga diri dan menyiapkan pilihan. Memperbarui CV. Menghubungi teman. Mencari bantuan. Mengambil istirahat yang memungkinkan.
Pelan-pelan, sesuai keadaanmu.
Aku tidak ingin menutup tulisan (yang lebih cocok disebut keluh kesah) ini dengan “Semangat, kamu pasti bisa!” lalu meninggalkanmu sendirian menghadapi Senin. Aku ingin kita punya kehidupan yang memungkinkan seseorang berkata, “Tempat ini menyakitiku, aku harus pergi,” tanpa langsung membayangkan keluarganya kehilangan pegangan.
Karena rasanya sederhana sekali yang kita minta: bisa bekerja, membayar kebutuhan, pulang dengan sisa tenaga, lalu menikmati hidup bersama orang yang kita sayang.
Masa untuk hidup sewajar itu saja, kita harus sekuat ini?


