Ada satu hal yang baru-baru ini aku sadari, ternyata mengampuni itu belum tentu sepaket sama melupakan. Selama ini kukira kalau udah bilang “Aku udah maafin kok,” ya artinya selesai. Case closed and move on. Tapi kenyatannya gak sesimpel itu. Beberapa waktu kemudian, entah kenapa, ingatan itu muncul lagi. Kejadian yang sama, rasa yang sama, dan sakitnya… masih ada. Dan di momen itu aku baru sadar, oh, ternyata aku harus belajar mengampuni lagi. Bukan cuma sekali. Awalnya aku sempat merasa gagal. Lho, kok masih sakit? Berarti aku belum benar-benar mengampuni dong? Tapi terus kepikiran satu hal yang bikin aku mikir ulang. Gimana kalau Tuhan minta kita mengampuni tujuh puluh kali tujuh…
-
-
Musuh Karena Cinta, Sahabat Karena Dewasa
Ada pertemuan yang manis, ada yang biasa saja, dan ada juga yang.. ya ampun, kalau bisa dihapus dari timeline hidup mungkin sudah aku klik delete forever. Perkenalanku dengan Lia masuk kategori yang terakhir. Bukan sekedar ackward, tapi benar-benar sebuah tragedi yang dibungkus drama. Kami bertemu bukan sebagai calon sahabat, tapi sebagai dua perempuan muda yang sama-sama mencintai lelaki yang kalau dipikir sekarang, salah dari awal sampe akhir. Kenaifan masa muda membuat segalanya terasa hitam putih. Ada aku, ada dia, ada rasa cemburu, dan ada ego yang sama-sama keras. Kami pernah jadi musuh, hanya karena sama-sama salah memilih orang untuk dicintai. Kala itu, kami saling membenci dengan penuh semangat masa muda.…