Ada satu hal yang baru-baru ini aku sadari, ternyata mengampuni itu belum tentu sepaket sama melupakan.
Selama ini kukira kalau udah bilang “Aku udah maafin kok,” ya artinya selesai. Case closed and move on. Tapi kenyatannya gak sesimpel itu. Beberapa waktu kemudian, entah kenapa, ingatan itu muncul lagi. Kejadian yang sama, rasa yang sama, dan sakitnya… masih ada. Dan di momen itu aku baru sadar, oh, ternyata aku harus belajar mengampuni lagi. Bukan cuma sekali.
Awalnya aku sempat merasa gagal. Lho, kok masih sakit? Berarti aku belum benar-benar mengampuni dong? Tapi terus kepikiran satu hal yang bikin aku mikir ulang.
Gimana kalau Tuhan minta kita mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali itu bukan karena kesalahan orang itu akan terus berulang, tapi karena kita yang akan terus mengingatnya.
Duh, kalau dipikir-pikir, masuk akal juga ya. Karena setiap kali ingatan itu datang lagi, sebenarnya itu momen kita dikasih pilihan lagi. Mau terus pelihara rasa sakitnya dan jadi luka yang dipupuk terus atau kembali menyerahkan luka itu ke Tuhan, lagi dan lagi?
Jadi mungkin mengampuni bukan keputusan yang cukup hanya dibuat sekali di satu titik waktu. Mungkin buat sebagian dari kita (termasuk aku), mengampuni itu keputusan yang harus dipilih ulang. Dan dipilih ulang lagi. Setiap kali ingatannya kembali muncul, ya kita pilih lagi untuk mengampuni.
Luka dari Masa Lalu yang Ternyata Lebih Mudah Sembuh
Aku jadi mikir soal ini karena membandingkan dua pengalaman aku sendiri. Dulu, waktu masih muda dan naif-naifnya (halah), tentunya aku pernah disakiti mantan pacar. Kala itu rasanya nyesek banget kaya dunia runtuh. Nangis semalaman, gak doyan makan, susah move on, berharap balikan, drama khas masa muda pokoknya lengkap.
Tapi ternyata, ketika sekarang inget momen-momen itu, walau semenyakitkan apapun, rasanya udah kaya nonton film lama. Bekas lukanya ada, teringat, tapi udah gak bikin sakit. Aku bisa menceritakannya ke siapapun sambil menertawakan kebodohan-kebodohan masa itu. Bahkan bisa jadi bahan candaan sama teman-teman. Lukanya udah kering total, gak berbekas, gak sakit lagi.
Kenapa bisa segampang itu? Karena aku udah gak sedekat itu lagi sama orangnya. Udah gak pernah ketemu, gak harus berbagi ruang hidup, gak ada urusan yang mengikat kami berdua untuk terus berinteraksi. Jarak, baik fisik maupun waktu, ternyata memang punya andil besar dalam proses penyembuhanku. Ibarat luka fisik, kalau gak terus-terusan digaruk atau kena gesekan, ya wajar kalau lebih cepat mengering dan hilang bekasnya. Sembuh.
Tapi Gimana Kalo Orang yang Menyakiti Kita Itu Justru Orang yang Terus Ada di Hidup Kita?
Ini yang jadi PR sebenarnya. Karena ternyata gak semua luka punya privilege untuk berjarak dari sumbernya.
Coba bayangin kalo yang menyakiti kita itu suami sendiri. Orang yang kita pilih untuk menjalani hidup bersama selamanya. Orang yang setiap hari kita lihat wajahnya, kita ajak bicara, bahkan tidur di ranjang yang sama. Gak ada opsi untuk menjauh biar sembuh di sini, karena hidup kita sudah menyatu dengannya.
Ini yang bikin proses mengampuni jadi jauh lebih rumit dan butuh waktu lebih panjang. Karena setiap hari ada kemungkinan kita ketemu lagi sama trigger-nya. Cara dia ngomong yang mengingatkan kita sama kejadian itu. Situasi yang mirip dengan momen yang pernah menyakiti kita. Bahkan hal sekecil nada suaranya aja kadang bisa langsung menarik ingatan kita kembali ke rasa sakit itu.
Beda sama luka dari mantan pacar yang udah gak ada kontak lagi. Kalau sama pasangan yang masih hidup bersama kita, ingatannya bukan cuma sesekali muncul karena teringat, tapi bisa terus-menerus direfresh oleh interaksi sehari-hari. Dan itu artinya kesempatan untuk memilih mengampuni lagi juga jadi lebih sering datang. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali, mungkin dalam minggu yang sama.
Justru di Situ, Tujuh Puluh Kali Tujuh Kali jadi Masuk Akal
Aku jadi paham kenapa Tuhan minta kita mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali. Bukan karena Dia pengen kita jadi keset yang terus-terusan diinjak, tapi karena Dia tahu, buat sebagian hubungan yang gak bisa (dan gak seharusnya) dipisahkan manusia, prosesnya memang akan berulang. Dan itu bukan tanda kegagalan kita dalam mengampuni.
Kalau lukanya dari mantan pacar, kita dikasih waktu dan jarak untuk pulih. Tapi kalau lukanya dari pasangan hidup, kita harus belajar sembuh sambil tetap berjalan bersisian sama sumber lukanya. Berat? Iya. Tapi bukan berarti mustahil. Cuma butuh kesadaran ekstra bahwa proses ini emang gak akan selesai dalam sekali keputusan.
Setiap kali ingatan itu muncul, entah dipicu oleh kejadian kecil atau cuma keinget aja tiba-tiba, kita dikasih pilihan yang sama terus; mau pelihara sakitnya, atau serahkan lagi ke Tuhan. Dan karena kita akan terus hidup berdampingan sama orang ini, ya wajar kalau kesempatan untuk memilih itu juga datang berkali-kali. Bukan berarti kita gagal mengampuni. Justru itu tandanya kita sedang menjalani pengampunan dalam bentuknya yang paling nyata. Yang diuji terus menerus dalam kehidupan sehari-hari, bukan cuma sekali diucapkan lalu selesai.
Jadi, Gak Apa-Apa Kalau Prosesnya Panjang
Kalau kamu juga lagi ngerasain hal yang sama. Luka dari orang yang masih dan akan terus di hidupmu, entah itu suami, istri, orang tua, atau anak. Aku cuma mau bilang, kamu gak kalah. Kamu gak gagal mengampuni cuma karena rasa sakitnya kadang masih muncul. Kamu cuma sedang menjalani versi pengampunan yang lebih menantang karena kamu gak punya privilege jarak seperti luka-luka yang sudah berlalu.
Yang penting, setiap kali ingatan itu datang, kita tahu ke mana harus membawanya. Bukan dipendam, bukan dipelihara jadi bara yang terus membakar, tapi diserahkan lagi pada-Nya. Dan lagi. Sesering yang dibutuhkan.
Karena mungkin, itulah yang membuat sebuah hubungan yang dijalani seumur hidup bisa terus bertahan dan bertumbuh. Bukan karena gak pernah ada luka, tapi karena ada kemauan untuk terus memilih mengampuni, meskipun orangnya masih ada di depan mata kita setiap hari.
Semoga kita semua diberi hati yang lapang untuk terus belajar ini ya. Pelan-pelan aja. Dan kalau hari ini kamu masih berjuang untuk mengampuni lagi kesekian kalinya, itu bukan kekalahan. Itu bukti kamu masih mau mencoba.