Jam 07.55 pagi. Notifikasi WhatsApp masuk. Belum sempet ngopi, baru aja nyalain PC, eh, chat udah nongol duluan. “Pagi bu Abby, mohon maaf sebelumnya jika kabar ini mengejutkan…” Oke, dari kalimat pembuka aja udah kebaca sih ini bakal jadi awal yang “indah” buat Jumat terakhir di bulan ini. Dan bener aja. Isinya: resign, mendadak, efektif hari itu juga. Bukan besok, bukan minggu depan, bukan bulan depan sesuai kontrak. Hari. Itu. Juga. Pas tanggal gajian masuk pula. Wow banget, timing-nya niat banget ya, Dek. One month notice? Persetan katanya. Mungkin di kepala dia ada suara khusus yang bilang, “notice period cuma buat orang lemah.” Sebenarnya Aku Udah Curiga, Tapi… Yang bikin…
-
-
Mengampuni Tidak Cukup Sekali
Ada satu hal yang baru-baru ini aku sadari, ternyata mengampuni itu belum tentu sepaket sama melupakan. Selama ini kukira kalau udah bilang “Aku udah maafin kok,” ya artinya selesai. Case closed and move on. Tapi kenyatannya gak sesimpel itu. Beberapa waktu kemudian, entah kenapa, ingatan itu muncul lagi. Kejadian yang sama, rasa yang sama, dan sakitnya… masih ada. Dan di momen itu aku baru sadar, oh, ternyata aku harus belajar mengampuni lagi. Bukan cuma sekali. Awalnya aku sempat merasa gagal. Lho, kok masih sakit? Berarti aku belum benar-benar mengampuni dong? Tapi terus kepikiran satu hal yang bikin aku mikir ulang. Gimana kalau Tuhan minta kita mengampuni tujuh puluh kali tujuh…
-
Resolusi 2026: Aku Tidak Punya Rencana
Menjelang 2026, hampir semua orang sibuk menuliskan resolusi. Target hidup, rencana karier, mimpi yang ingin dikejar, dan daftar panjang hal-hal yang ingin dicapai. Dulu aku juga seperti itu. Aku merasa harus selalu punya rencana supaya hidup terasa aman dan terkendali. Tapi tahun ini berbeda. Aku menyadari satu hal yang cukup besar dalam diriku: aku tidak punya rencana apa pun untuk 2026 ini. Bukan karena aku menyerah pada hidup, tapi karena aku akhirnya mengerti bahwa tidak semua hal harus aku pegang kendalinya. Dan anehnya, justru di situ aku merasa lebih tenang. Hidup Tanpa Rencana, Tapi Tidak Tanpa Arah Tidak punya rencana bukan berarti hidupku tanpa arah. Aku tetap ingin hidup sebaik-baiknya.…
-
Tiga Hari Menuju 2026: Persiapkan Hatimu
Ada fase sebelum tahun baru yang selalu terasa lebih sunyi, tapi juga lebih jujur. Tiga hari terakhir bukan cuma soal menghitung mundur pergantian angka, tapi tentang hati yang mulai lelah membawa terlalu banyak cerita. Di titik ini, aku merasa manusia memang butuh pause. Bukan untuk menyerah, tapi untuk membereskan. Karena sejauh apa pun kita melangkah ke 2026, kalau isi hati masih penuh sisa 2025, langkah itu akan selalu terasa berat. Maka sebelum resolusi ditulis dan mimpi baru disusun, ada lima hal yang menurutku perlu dibereskan pelan-pelan. 1. Memaafkan: Melepaskan Beban yang Diam-Diam Mengikat Memaafkan adalah pekerjaan batin yang sering kali tidak kelihatan hasilnya secara instan. Kita terbiasa mengira memaafkan berarti…
-
Musuh Karena Cinta, Sahabat Karena Dewasa
Ada pertemuan yang manis, ada yang biasa saja, dan ada juga yang.. ya ampun, kalau bisa dihapus dari timeline hidup mungkin sudah aku klik delete forever. Perkenalanku dengan Lia masuk kategori yang terakhir. Bukan sekedar ackward, tapi benar-benar sebuah tragedi yang dibungkus drama. Kami bertemu bukan sebagai calon sahabat, tapi sebagai dua perempuan muda yang sama-sama mencintai lelaki yang kalau dipikir sekarang, salah dari awal sampe akhir. Kenaifan masa muda membuat segalanya terasa hitam putih. Ada aku, ada dia, ada rasa cemburu, dan ada ego yang sama-sama keras. Kami pernah jadi musuh, hanya karena sama-sama salah memilih orang untuk dicintai. Kala itu, kami saling membenci dengan penuh semangat masa muda.…
-
The Place Where I Used to Belong
There’s a kind of heartbreak that doesn’t explode. It just quietly sits there. Like the silence between two people who used to talk about everything. That’s the kind of sadness this song reminds me of. The moment you realize the person you love has already left you, long before they actually say it. They’re still beside you, still smiling, still saying all the right words, but you can feel it. The warmth is gone. And suddenly, the person who used to be your safest place becomes a stranger you have to tiptoe around. She trusted him. That’s what hurts the most. Trust, that soft, invisible thing she built day by…
-
2025: Tahun Dar Der Dor Penuh Kejutan
Kalau 2025 ini bisa kuberi judul, mungkin judulnya “Dar Der Dor” karena bener-bener penuh ledakan kejutan yang di luar prediksi BMKG. Sama sekali gak ada di rencana kami saat tutup tahun 2024 lalu. Awalnya semua terasa seperti roller coaster. Aku harus keluar dari company yang aku cintai setengah mati. Rasanya kayak ditarik paksa keluar dari zona nyaman yang udah aku rawat bertahun-tahun. Belum habis rasa kehilangan itu, eh tiba-tiba kami sekeluarga harus boyongan pindah ke Solo. Sibuk bolak-balik ngurus pindahan, beradaptasi, plus di saat yang sama anak pertama lulus TK dan harus cari SD baru di Solo (padahal udah beres daftar SD di Jogja sejak pertengahan 2024 😔). Belum selesai…
-
Aku Jarang Bicara Politik, Tapi Kali Ini Aku Berisik
Kalau kamu udah lama kenal aku, atau ngikutin blog & media sosialku, pasti tau banget kalau aku tuh jarang banget ngomongin politik, cenderung apatis malah sama pemerintah. Media sosial buatku mostly tempat buat curhat receh, life update ringan, atau sekadar berbagi hal-hal fun yang kualami sehari-hari. Karena jujur, aku merasa politik bukan ekspertiseku. Kadang juga capek lihat timeline yang isinya debat kusir soal siapa yang benar, siapa yang salah. Tapi, sejak malam demo 28 Agustus kemarin, hatiku rasanya terlalu marah untuk tetap diam. Seorang anak yang sama sekali gak bersalah harus kehilangan nyawanya sia-sia, dengan cara yang gak manusiawi. Dan ini bukan sekadar headline berita yang bisa kita skip lalu…
-
Gantian Dong! Dari IUD ke Vasektomi
Haiiii! Kali ini aku mau bahas topik yang kata sebagian orang tabu tapi sebenernya penting banget buat dibahas. Vasektomi. Yes, kamu gak salah baca, kontrasepsi buat laki-laki. Jadi gini, Capek deh Kalau Perempuan Terus yang Effort Selama ini, project bikin anak tuh rasanya udah jadi full-time job buat perempuan. Mulai dari promil, hamil 9 bulan, taruhan nyawa waktu lahiran, terus masih lanjut maraton begadang ngurus bayi dan nyusuin. Eh giliran program mencegah anak, kok ya perempuan lagi yang harus effort. KZL gak sih? Aku sendiri udah pake IUD hampir 5 tahun. Dan jujur, makin lama makin gak nyaman, based on pengalamanku ya ini. Akhirnya aku ngomong sama suami, “Masa sih,…














