Bakso, side eyes, small joy
Random Talk

Sibuk Menilai Orang, Lupa Menikmati Hidup Sendiri

Kadang aku penasaran, orang yang rajin banget mengomentari hidup orang lain tuh sebenernya punya waktu luang sebanyak apa, sih? Ada orang posting liburan, dikatain pamer. Ada yang cerita pencapaian, dibilang cari validasi. Ada yang lagi bahagia sama pasangannya, diingatkan bahwa yang mesra di media sosial belum tentu bahagia di dunia nyata.

Iya, mungkin. Tapi mereka cuma posting makan bakso berdua, lho. Kenapa kita sampai harus mengaudit kesehatan pernikahan mereka?

Belum lagi orang yang hobi menyelipkan komentar kecil yang efeknya ternyata gak kecil-kecil amat.

“Sekarang gemukan, ya?”

“Oh, sekarang cuma di rumah?”

Kata cuma ini kecil banget bentuknya, tapi bisa membawa satu truk penilaian.

Lalu kalau orangnya tersinggung, tinggal keluarkan kartu andalan: “Ya ampun, bercanda doang. Sensitif banget sih.”

Praktis. Yang satu melontarkan komentar, satunya lagi kebagian tugas menertawakan dirinya sendiri supaya suasana tetap enak. Enak buat siapa dulu, nih?

Melihat yang begini, kadang muncul pertanyaan yang agak nyebelin di kepalaku. Are you actually happy with your own life?

Kenapa kog energinya banyak banget untuk bikin orang lain merasa kurang?

Ketika Hidup Orang Lain Terasa Seperti Sindiran

Lucunya, kadang orang lain tidak sedang melakukan apa-apa ke kita. Mereka cuma menjalani hidupnya. Teman pindah kerja. Saudara mulai usaha. Kenalan lama akhirnya menikah. Seseorang yang kita ikuti di Instagram kelihatan senang dengan hobi barunya.

Tidak ada yang menyebut nama kita. Tidak ada yang membuka presentasi berjudul “Kenapa Hidup Saya Lebih Berhasil daripada Hidupmu?” Tapi entah bagaimana, kita merasa perlu membela diri.

“Ya dia kan punya koneksi.”

“Kalau aku punya modal segitu, aku juga bisa.”

“Lihat aja nanti, paling semangat di awal doang.”

Bisa jadi ada privilege yang memang dia punya. Bisa jadi perjalanan kita memang lebih sulit. Ketimpangan itu nyata, dan kita boleh membicarakannya. Tapi apa bedanya membahas keadaan dengan berharap orang tertentu gagal supaya perasaan kita sedikit lebih nyaman.

Yang kedua ini agak pahit untuk diakui. Kadang pencapaian orang lain menyentuh bagian dalam diri yang belum selesai kita urus. Keinginan yang tertunda. Kesempatan yang tidak jadi diambil. Usaha yang belum membuahkan hasil. Perasaan sudah lari jauh, tapi kog masih di sini-sini aja.

Lalu kita melihat orang lain maju, dan rasanya seperti tertinggal lagi, dan lagi.

Padahal dia tidak sedang berlomba dengan kita. Kita aja yang diam-diam mendaftarkan dia sebagai peserta.

Tapi Aku Juga Perlu Hati-Hati dengan Kesimpulanku Sendiri

Meski begitu, rasanya terlalu gampang kalau aku menyimpulkan semua orang yang menyebalkan pasti tidak bahagia hidupnya.

Aku tidak tahu seluruh isi hidup seseorang dari satu komentarnya. Aku juga tidak bisa mengukur kedamaian batin orang berdasarkan seberapa sering dia nyinyir di dunia maya.

Orang yang hidupnya sedang baik-baik saja tetap bisa bersikap buruk. Orang yang sedang menghadapi masalah berat tetap bisa memperlakukan orang lain dengan lembut.

Jadi kalau aku memakai kalimat “pasti hidupnya gak bahagia” untuk merendahkan orang yang suka merendahkan, ya muter aja gitu pada akhirnya. Kita ketemu lagi di lingkaran yang sama.

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: ketika kita sedang kecewa dengan hidup sendiri, ke mana kita membawa kekecewaan itu? Apakah kita berusaha memahaminya? Mengakuinya kepada orang yang kita percaya? Atau mengambil jarak sebentar?

Atau justru mencari seseorang yang bisa kita buat merasa lebih buruk?

Karena sedih, iri, kecewa, dan lelah itu perasaan yang bisa datang kepada siapa saja. Yang perlu kita pertanggungjawabkan adalah tindakan kita setelahnya.

Capek Boleh. Orang Lain Jangan Kebagian Semuanya.

Hidup memang bisa bikin kepala penuh. Pekerjaan menumpuk, uang habis sebelum gajian datang, urusan rumah tidak ada tombol pause-nya. Ada pesan yang belum dibalas, keputusan yang terus ditunda, dan cucian yang punya kemampuan regenerasi luar biasa.

Dalam keadaan begitu, sabar bisa terasa seperti aplikasi yang terus force close.

Aku bisa memahami kenapa seseorang jadi lebih gampang marah. Tapi memahami penyebabnya tidak membuat dampaknya hilang. Orang yang kita bentak tetap kebentak. Orang yang kita permalukan tetap pulang membawa rasa malu. Mereka belum tentu tahu bahwa sejak pagi hari kita sedang berantakan.

Dan sekalipun mereka tahu, mereka juga punya hidup yang sedang mereka usahakan.

Barista yang salah dengar pesanan mungkin sedang capek. Rekan kerja yang bertanya dua kali mungkin sungguh belum paham. Anak yang terus mengajak bicara mungkin cuma kangen ditemani.

Mereka hadir di depan kita sebagai manusia, masing-masing dengan kebutuhan dan keterbatasannya. Kadang kita terlalu penuh dengan urusan sendiri sampai lupa menyadari itu.

Rasanya penting untuk bisa bilang, “Aku lagi capek. Aku butuh waktu sebentar.”

Kalimat itu memberi orang lain kesempatan untuk memahami keadaan kita. Jauh lebih adil daripada mengharuskan mereka menebak dari nada bicara yang tiba-tiba tajam.

Tidak Semua Hal Perlu Pendapat Kita

Beyond the selfie, social media judging

Ini pengingat yang tampaknya perlu ditempel dekat tombol send.

Ada orang yang suka berdandan. Ada yang lebih nyaman tampil sederhana. Ada yang senang merayakan ulang tahun besar-besaran. Ada yang lebih memilih makan Indomie sambil nonton Netflix di rumah.

Ada yang bahagia mengejar karier. Ada yang sedang mengurangi pekerjaan supaya punya lebih banyak waktu bersama keluarga. Ada yang belum tahu maunya apa dan sedang mencoba pelan-pelan.

Selama pilihan itu tidak menyakiti orang lain, mungkin kita bisa membiarkannya hidup tanpa komentar tambahan dari kita.

Kita boleh tidak suka. Kita boleh merasa tidak cocok. Kita bahkan boleh melihat sesuatu, berpikir “bukan seleraku”, lalu lanjut mengupas mangga.

Tidak terjadi apa-apa. Dunia tetap berputar. Mangganya juga jadi lebih cepat selesai.

Tentu ada hal yang memang perlu dikritik: tindakan yang merugikan, perlakuan tidak adil, keputusan yang berdampak pada banyak orang. Kita tetap perlu bersuara. Tapi sebelum bicara, mungkin kita bisa bertanya: aku sedang membahas sesuatu yang perlu diperbaiki, atau sedang menikmati kesempatan untuk mempermalukan seseorang?

Pertanyaan itu tidak selalu nyaman. Terutama kalau jawaban jujurnya ternyata yang kedua.

Eh, Ini Sedang Membicarakan Siapa?

Sampai sini mungkin kita sudah kepikiran beberapa nama. Teman kantor, saudara, tetangga, akun yang komentarnya selalu muncul dengan nada seperti habis ditagih utang.

Aku juga gampang sekali melihat contoh-contoh kalau pelakunya orang lain. Giliran diri sendiri, mendadak punya penjelasan lengkap. Aku kan cuma jujur. Aku kan kenal dia. Aku kan ngomong begitu karena peduli.

Ya, mungkin memang peduli. Tapi kepedulian juga perlu diperiksa cara menyampaikannya.

Apakah orang itu meminta pendapat kita? Apakah perlu dibicarakan di depan banyak orang? Apakah kalimat yang sama akan kita ucapkan kalau dia sedang duduk tepat di sebelah kita?

Atau sebenarnya kita cuma ingin orang lain tertawa, dan kebetulan dia yang dijadikan bahan?

Kadang kita ingin terlihat paling paham. Kadang ingin dianggap lucu. Kadang sedang iri dan belum berani mengakuinya, jadi kita membungkusnya sebagai penilaian yang terdengar masuk akal.

Mengakui itu tidak menyenangkan. Tapi setidaknya dari sana ada sesuatu yang bisa dikerjakan. Kita bisa menghapus komentar sebelum dikirim. Mengganti kalimat. Memilih untuk bicara empat mata. Atau, kalau terlanjur menyakiti, minta maaflah dengan jelas.

“Tadi komentarku gak perlu dan bikin kamu malu. Maaf.”

Lalu berhenti dulu. Tidak usah langsung disambung dengan penjelasan tentang kenapa orangnya seharusnya jangan terlalu sensitif.

Belajar Menyukai Hidup yang Sedang Kita Jalani

Aku suka gagasan tentang hati yang cukup bahagia untuk berbuat baik. Ada ruang untuk ikut senang, ada tenaga untuk mendengarkan, ada ketenangan untuk membiarkan orang lain berbeda.

Tapi kalau menunggu hidup sempurna dulu baru bisa punya hati seperti itu, mungkin antreannya panjang sekali.

Akan selalu ada bagian hidup yang belum sesuai harapan. Selalu ada orang yang lebih dulu sampai ke tempat yang kita inginkan. Bahkan ketika satu masalah selesai, masalah lain sudah antre untuk datang.

Jadi, mungkin kita bisa mulai dari mengenali apa yang membuat hidup sendiri terasa layak dijalani.

Percakapan yang membuat kita merasa didengar. Pekerjaan kecil yang akhirnya selesai. Orang yang bisa diajak tertawa tanpa harus menjadikan seseorang sebagai lelucon. Waktu tenang yang tidak langsung diisi dengan membandingkan diri dengan siapa pun.

Kita juga boleh mengakui bahwa ada sesuatu yang ingin diubah. Ada rasa iri yang memberi tahu keinginan kita. Ada lelah yang meminta istirahat. Ada hubungan yang perlu diberi batas. Mengurus bagian-bagian itu mungkin lebih membantu daripada terus memantau hidup orang lain sambil mencari kekurangannya.

Dan kalau ada orang yang terus merendahkan kita, kita boleh menjaga jarak. Kita tidak harus bersedia disakiti demi membuktikan bahwa kita cukup pengertian. Semoga dia menemukan cara yang lebih baik untuk menjalani hidupnya. Sementara itu, kita boleh memilih tempat duduk yang agak jauh.

Semoga Kamu Cukup Bahagia

Waktu pertama kali nulis “Hope you’re happy enough with your own life,” aku bisa mendengar nada menyindirnya.

Semacam, “Kog sempat-sempatnya, sih?”

Tapi setelah kupikir lagi, aku ingin kalimat itu juga menjadi harapan yang tulus.

Semoga kamu punya sesuatu dalam hidup yang membuatmu bangun dengan sedikit semangat. Semoga ada orang yang membuatmu merasa diterima. Semoga kamu bisa melihat pencapaian orang lain tanpa langsung menggunakannya untuk menghukum diri sendiri.

Semoga ketika hidup sedang berat, kamu punya tempat untuk bercerita, sehingga beban itu tidak harus keluar sebagai kalimat yang melukai siapa saja yang kebetulan lewat.

Dan semoga aku juga begitu.

Semoga aku cukup sadar untuk berhenti ketika mulai kejam. Cukup berani untuk mengakui rasa iri. Cukup rendah hati untuk meminta maaf. Aku masih ingin bisa melihat orang bahagia dan ikut tersenyum, tanpa perlu menyelidiki apakah mereka pantas mendapatkannya.

Kalau belum bisa ikut senang hari ini, semoga setidaknya aku bisa membiarkan mereka menikmati harinya.

Postingan suami istri jajan bakso itu boleh lewat dengan damai, hehehe.

Hope you’re happy enough with your own life.

Untuk kamu. Untuk aku juga.

MGAA

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *