Uncategorized

Untuk Lelaki di Timur Ibukota

Aroma tubuhmu sedang menyeruak ke alam bawah sadarku saat kutulis surat ini, sayang. Begitulah ketika rindu tengah berusaha menemukan bentuknya sendiri, ragaku hanyalah wadah yang membadani damba akan keberadaanmu. Senja ini lamat-lamat menyatakan diri, membuatku teramat menikmati suasana khas sore hari yang kerap kali menggambarkan wajahmu pada langitnya yang keunguan. Lelakiku, bagaimana kabarmu di sana? Adakah bulan setengah matang juga lahir pada senjamu?

Sesak batinku lantaran rindu padamu sedikir terobati setelah semalam kita bertukar suara. Namun, hitungan jam dalam percakapan maya tidak setara dengan satu hari yang kutiti bersamamu. Jelas saja, telepon tidak mampu menggantikan senyummu, juga matamu yang tengil saat tawa itu terbit. Begitu juga kata-kata yang dengan setia kita kirim setiap harinya, tidak cukup menghadirkan peluk yang sesungguhnya. Tak ada lain bisa kita buat, sayang. Inilah jauh yang harus kita tempuh, berdua kita mengarak cinta yang berjarak.

Baru kemarin kita bertemu, sebelum bis itu membawamu. Dan hari ini, tak bosan kuhitung waktu hingga tiba saat aku menjemputmu di tempat yang sama seperti aku biasa menjemputmu. Akan aku tunggu waktu itu, kala rindu menghambur pada erat dekapmu. Kala kita tidak perlu lagi bertukar kata dan hanya perlu bertukar pandangan mata.

Demikianlah sayang. Kutuliskan ini di sebuah kota yang akan selalu kau rindukan. Tanganku memang tak cukup panjang untuk merengkuhmu. Mataku juga tak mungkin selalu menjagamu. Namun yang perlu kita tahu, rentang tak pernah jadi dalang dalam pewayangan kita. Selalu ada hati yang menemanimu. Selalu ada batin yang membersamaimu. Dan soal rindu, bukankah rindu adalah takdir yang paling syahdu?

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *