30 hari menulis surat cinta

Sudah Waktunya Merelakan

Mungkin kini sudah saatnya aku berhenti, membebaskan hati.

Masih terasa lekat, bagaimana rasanya kepalaku merekat pada dadamu yang hangat. Aku melingkarkan kedua tanganku pada tubuhmu yang kuat. Sekejab aku menikmati rasa nyaman pada pelukanmu yang semakin mendekap.

Aku ingat poros matamu, menatapku dengan sungguh-sungguh, tanpa jeda akan ragu. Berusaha meyakinkanku, bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang menempati ruang khusus di hatimu. Caramu mengulum seuntai senyum, selalu berhasil menghapus sendu yang sekelebat bersarang sebelum kita sama-sama saling bertemu.

Segelintir candaan yang sering kamu lontarkan pada hari-hari terburukku membuatku candu. Seakan-akan salah satu misi terbesarmu adalah selalu menghasilkan warna di setiap gelak tawaku.

Saat itu, kita seperti sedang menari dalam dunia yang orang lain tidak pahami. Aku sungguh bergembira, karena kamu datang dan menggenggam erat-erat jari tanganku, hanya untuk membawa kita sampai pada sebuah tujuan terakhirmu. Tapi kini, segalanya hanya sebuah memori. Dan aku merindukannya. Mungkin ini yang tidak pernah benar-benar aku jelaskan kepadamu.

Di tiap kali otakku memvisualisasikan begaimana sederetan kenangan-kenangan itu bekerja, aku menutup mulutku diam-diam. Hanya sanggup berkata-kata dengan diri sendiri, mengingat bahwa ternyata kamu telah memilih pergi.

Awalnya aku terluka, karena egoku yang keras, mempersilakan kamu untuk meninggalkan segelintir janji-janji yang pernah kamu sebutkan, yaitu perihal bahagia bersama hingga di masa tua, dan aku sudah terlanjur percaya. Tapi waktu membasuh segala kecewa dan menggantinya dengan sejumlah rasa rindu yang menurutku akan menjadi sia-sia, karena kamu tidak akan mau kembali hanya karena aku masih begitu cinta.

Pernah beberapa kali aku berusaha untuk mengejar, menyematkan sabar dan mengucap dalam doa dalam-dalam, berharap kamu bersedia untuk memulai lagi cerita. Tapi hanya sekian banyak kata tidak dan muak yang menguak dari bibirmu yang terlalu manis untuk menolak.

Aku lelah untuk terus menerus menawarkan harga diri, hanya untuk bersikeras membawamu kembali. Mungkin kini sudah saatnya aku berhenti, membebaskan hati, dan membenamkan keinginan untuk memilikimu kedua kali. Karena aku pun berhak untuk merasakan bahagia, walaupun tidak bersama-sama denganmu lagi.

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *