Uncategorized

Steril Yuk – Pengalaman Steril Anjing

Gentong di meja operasi, kondisi sudah tidak sadar

Ketika saya datang ke Puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan) untuk mensteril Gentong (anjing saya), berbarengan dengan seorang gadis yang anjingnya (ras) sedang hamil besar, dan menunggu lahiran di Puskeswan karena sudah lewat harinya gak lahiran juga.

Si gadis bertanya keheranan kepada saya, kenapa saya harus mensteril anjing saya. Dia bertanya dengan ekspresi ngeri, seolah perbuatan saya mensterilkan Gentong adalah kekejaman yang mengerikan. Dia berpendapat bahwa mensteril sama saja dengan merampas hak kenikmatan duniawi si anjing, duh mba… Kalo steril dianggap sebuah kekejaman, apa kabar dengan mengawinkan anjingnya sampe akhirnya hamil besar, kepayahan, sampe gak bisa keluar-keluar gitu, emangnya si anjing gak kesakitan? Coba deh mba hamil trus udah HPL tapi gak keluar2, cobain rasanya.

Ya, di lingkungan tempat tinggal saya, tindakan mensteril anjing masih dianggap tabu, dianggap sesuatu yang kejam dan tidak manusiawi. Mereka lebih suka mengawinkan anjingnya supaya beranak yang lucu-lucu. Ada yang memang cuma pengen “punya cucu” yang unyu-unyu, tapi gak sedikit yang cari uang dengan mengawinkan anjingnya, atau menjual anakannya. Lagi-lagi uang. Human.

Pernahkah terpikir? Ketika anjingmu beranak lebih dari satu, apa iya akan kalian pelihara semua? Pasti dikasih ke orang atau dijual kan? Kebayang gak kalo ternyata mereka jatuh di tangan yang salah, tidak terawat, ditelantarkan, dibuang, atau bahkan dimakan?

Saya pribadi merasa tidak mampu menjamin kehidupan anak-anak anjing tanpa dosa itu, jadi saya memilih anjing saya jangan sampe beranak, dan solusinya ya steril.

Hari Senin, tepat di hari ulang tahun adik saya, pukul 9 pagi saya sudah janjian dengan drh. Novita untuk steril Gentong. Begini prosesnya…

Pertama gentong ditimbang badannya, 16 kg. Dari berat badan itu dokter menentukan banyaknya bius yang disuntikan ke tubuh gentong. Gak sampai semenit setelah dibius, Gentong langsung sempoyongan dan tak sadarkan diri. Ekspresinya lucu sih, tapi waktu melihat Gentong bener2 gak sadar ya takut juga, takut kenapa-napa.

Gentong sebelum dibius, tegang menanti giliran

Semenit dibius, langsung gak sadar

Setelah bener-bener gak sadarkan diri, Gentong digendong ke ruang operasi untuk disteril. Di proses ini kita gak boleh lihat, harus keluar dari ruang operasi. Dokternya butuh konsentrasi keleus…

Saat tindakan operasi, kita boleh pulang dulu. Operasinya sih sebenernya gak lama, cuma sekitar 15 menit, tapi anjing baru boleh dibawa pulang kalo sudah benar-benar sadar.

11.30 bbm dari drh. Novita masuk, memberi kabar kalo gentong sudah sadar dan bisa dijemput.

Puji Tuhan, steril Gentong berjalan lancar. Sampai rumah sudah normal, makan normal, walau jalannya agak sedikit aneh di hari pertama, kaya cowo habis sunat, hehehe… Lukanya juga cepat kering. Lancar jaya.

Biaya steril anjing dengan berat badan lebih dari 15 kg sebesar Rp 175.000. Tapi kemarin Gentong yang BBnya 16 kg dapet diskon, dan cuma disuruh bayar Rp 125.000. Lumayan…

Seminggu kemudian, giliran Junod yang disteril. Junod ini terlalu penakut anaknya. Baru sampe puskeswan aja dia udah ngompol ketakutan. Hahahaha..

Prosesnya sama, Junod ditimbang berat badannya (13 kg), kemudian dibius. Beda dengan Gentong yang cuma butuh semenit untuk pingsan, Junod butuh lebih dari 5 menit sampai dia benar-benar gak sadar. Kata dokter, daya tahan tubuh anjing berbeda-beda bisa menyebabkan cepat lambatnya anjing tidak sadar. Ditambah Junod ini terlalu tegang, kaya bocah mau disunat.

Berbeda dengan Gentong yang lancar jaya prosesnya, Junod sampai malam hari setelah steril masih teler berat. Tidur mulu dari siang pulang dari Puskeswan sampe malam hari, bikin takut. Ditambah dia gak mau makan, dan darah merembes dari luka operasinya.

Malam itu juga Junod saya bawa ke rumah drh Novita untuk dicek kondisinya. Setelah dicek, ternyata ikatan pembuluh darah Junod lepas sehingga membuat darah merembes terus dari lukanya. Yah, mau tak mau terjadilah operasi ulang di depan mata yang membuat perut saya kaya diaduk-aduk. Junod yang masih teler hanya dibius lokal, dibuka lagi jahitannya, diobok-obok bagian dalamnya untuk mencari pembuluh darah yang lepas, lalu dijahit ulang. Huft…

Setelah operasi ulang, rembesan darah di luka Junod sudah berkurang, dokter juga memberi tambahan resep untuk menghentikan rembesan darah dari luka operasi. Keadaan Junod membaik, gak terlalu teler.

Pagi harinya Junod terbangun sudah dengan segar bugar, pecicilan kesana kemari, dia gak sadar apa luka operasinya masih basah. Nafsu makan sudah kembali rakus.

Sore pulang kerja, ketika saya cek, ternyata JAHITAN OPERASI JUNOD LEPAS SEMUA!!!! Oh my God..  Junod tingkahnya…

Luka operasi Junod dengan benang yang sudah copot semua.

Ketika saya laporan sama dokternya, drh. Novita bilang gak perlu dijahit ulang, toh paling nanti benangnya dilepas lagi. Karena lukanya udah nempel walau benangnya udah ilang semua, dokter cuma nyuruh rutin kasih salep bioplacenton sambil dilihat gimana perkembangannya.

Sampai hari ini, H+4 pasca operasi kondisi Junod semakin membaik, tidak ada darah rembesan lagi, nafsu makan dan mood sangat baik. Doakan luka operasi Junod cepat kering dan sembuh yaa…

ANG.

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *