Dear, mesin penenun tawaku
Terasa aneh ya istilah mesin penenun tawa? aku sendiri yang bikin istilah itu. Menurutku, kamu benar-benar istimewa walau kadang terasa asing, aneh, menyebalkan terkadang. Kamu istimewa karena selalu mampu membuat aku senang layaknya anak kecil yang diberi gula-gula. Saking istimewanya, dalam tangis yang membuat suara serak dan mataku sembab, kamu membuatku tertawa dengan ringannya. Aku? Keki setengah mati dengan kesedihan yang menyapaku tadi. Plin-plan. Setelah menangis hingga kehabisan nafas, dengan seenak jidat tiba-tiba tertawa sampai mata tinggal segaris. Huft lah.
Karena keahlianmu yang tidak biasa inilah aku enggan meminjamkanmu kepada siapapun. Ke mantanmu pun tidak akan aku beri sekalipun aku dipaksa menikahi Chicco Jericho yang tampan itu. Intinya, apapun yang digadaikan untuk meminjammu, kamu tidak akan aku pinjamkan. Aku akan belagak egois untuk satu hal ini. Aku tidak ingin kamu rusak karena keseringan bekerja. Tapi sebenarnya aku tidak perlu mengkhawatirkanmu, Tuhan penciptamu akan selalu melindungimu. Ahh, tidak, aku tetap pada pendirianku, aku tidak ingin meminjamkanmu pada siapapun. Aku saja dapat pinjam dari Tuhan. Titik. Sudah-sudah jangan pengaruhi aku untuk merelakanmu dipinjam oleh siapapun. Tutup telinga *nananananananana…
Banyak orang yang berharap untuk meminjammu dari aku, sebenarnya jika aku mau mencatat nama-namanya. Mantanku pun sepertinya akan mengantri di deretan terdepan untuk meminjammu karena iri mendengar tawaku yang tak pernah melemah dan guratan senyum yang tak pernah pudar.
Mereka bilang kamu spesial. Mereka selalu mencibirku, kenapa aku yang dipinjami mesin tertawa oleh Tuhan. Mereka bilang aku beruntung. Tanpa harus memakan cokelat yang mengandung phenythylamine, aku sudah bisa membuat hormon kebahagiaanku berserakan kemana-mana, bahagiaku akan lengkap saat suaramu mederu memecah keheningan hari-hariku. Mereka yang berlebihan atau memang aku yang beruntung? Sepertinya aku yang beruntung untuk kali ini, bolehlah aku sedikit menyombongkan diri.
Jangan tertawakan aku karena sifat kekanak-kanakanku yaa. Aku terlalu sayang pada makhluk yang dipinjami Tuhan, kamu. Apa jadinya kalo kamu rusak? Siapa yang akan mengembangkan tirai tawaku kalo kamu rusak? Tidak ada. Aku tidak tau bengkel jagoan yang bisa memperbaimu. Dan yang jelas aku juga tidak memiliki kemampuan untuk memperbaikimu jika ada kerusakan setelah transaksi peminjaman. Aku mungkin akan membawamu ke ketok magic saja. Tapi tetap kembali ke statement awalku. Aku tidak akan meminjamkanmu ke siapapun. HAhahahaha…
Dear penenun tawaku, jangan pernah lelah untuk selalu membuatku tertawa. Untuk siapapun yang ingin memilikimu, biarlah itu hanya menjadi angan dalam harap mereka. Tebarkan tawa mereka tanpa kamu harus dimiliki oleh meraka. Karena kamu adalah mesin penenun tawaku yang dipinjamkan Tuhan tanpa garansi kerusakan. Dan aku tekankan sekali lagi, aku tidak akan meminjamkanmu kepada siapapun.


