Teruntuk, calon ibu mertuaku
Wanita kedua tercantik di bumi, setelah mother alien.
Bu, apa kabarmu? Saya harap ibu baik-baik, di manapun berada. Entah mengapa tiba-tiba terpikirkan oleh saya untuk menulis ini untukmu saat makan siang tadi. Panggilan hati, mungkin. 🙂
Bu, entah kapan Tuhan izinkan kita bertemu. Bertemu denganmu pastilah lebih susah daripada bertemu jodohku. Tentu saja, wong bertemu jodoh saja sudah susah, lah ini mau bertemu ibunya. Tambah susah lagi, hehehe…
Tapi Bu, ketahuilah bahwa sudah sejak lama calon menantumu ini merindu. Begitu ingin bertemu denganmu. Ingin mencium punggung tangan kananmu. Ingin ikut berbakti padamu.
Bu, jika suatu saat kita akhirnya saling bertatap muka, berjanjilah pada saya tentang beberapa hal. Berjanjilah untuk mengajarkan saya mengenalmu, mengenal kebiasaanmu. Berjanjilah untuk mengajarkan saya berbagi dengan hidup dua keluarga. Berjanjilah untuk mengajarkan saya mencintaimu, juga suamimu dan anak-anakmu, seperti saya mencintai milik saya sendiri. Berjanjilah untuk mengajarkan saya mengurus rumah, memasak makanan kegemaran keluarga kecilmu. Berjanjilah untuk mengajarkan saya membesarkan cucu-cucumu. Berjanjilah mengajarkan saya pahit dan manisnya para lelaki, yang di dalamnya ada salah satu cintamu yang terdalam, suamiku.
Bu, Tuhan sudah lebih tahu kalau saya berdoa setiap malam untukmu. Untuk wanita hebat yang telah melahirkan lelaki luar biasa. Lelaki yang nantinya Tuhan kirimkan untuk saya dan kelak menjadi ayah dari anak-anak saya.
Sampai jumpa di masa depan, Bu. Peluk dan cium tangan hormat untukmu selalu. Berkah Dalem Bu.
Dari saya,
calon menantu yang kelak banyak merepotkan


