Dear kamu, Rasanya belum lama yang dinamakan hati – milikku – sakit lalu mendingin seperti bongkahan es. Beruntung kamu yang membawakan obat hingga sembuh dan kembali pada fungsinya mewadahi sebuah rasa. Meski aku sempat berada pada masa-masa dilema, nyatanya aku harus mengakui bahwa aku punya asa, denganmu. Aku sempat ragu untuk meletakkan sebuah rasa percaya, terlebih pada makhluk lawan jenisnya hawa. Tapi nyatanya aku bersedia, berbagi ruang hati berdua. Kalau ditanya mengapa? Jawabnya, Aku melihat kesederhanaan. Apa adanya, tidak dibuat-buat. Aku melihat semangat. Apa saja terlewati nyaris sempurna. Awalnya aku tak pernah tahu siapa kamu. Tapi singkat cerita, aku jatuh hati. Aku meyakinkan diri kita memiliki tujuan sama. Aku meniatkan…
-
-
Aksara Cinta Buatmu
Ini bukan puisi, bukan juga syair. Aku beri tahu, ini hanya rangkaian kata – tulisan biasa. Karena ratusan frasa ini tidak akan pernah menjadi lebih spesial dari omelanmu mengingatkan aku sarapan dan menjaga kesehatan, juga cintaku ke kamu. Sudah tergambar di kepalaku sebuah sketsa; kamu duduk menghadap layar handphonemu dengan kerutan kening, mata indah, senyuman itu – saat kamu baca ini. Aku gak akan bertele-tele dan membuat tulisan ini jadi menye-menye seperti puisi cinta. Aku akan membuatnya cukup singkat setidaknya dibandingkan cintaku ke kamu, lagi-lagi. Tulisan ini bukan tentang segala yang sudah kamu lakukan untukku. Bukan juga cintamu ke aku. Mengenai itu tentu kamu lebih tahu. Tapi ini tentang yang…
-
Mencari Alasan
“Everything happen for a reason” – even for such a thing called love. Kepada lelaki bertubuh tegap yang menyayangiku, Selama ini aku hanya menyuratimu dalam bahasa rancu dan tersirat, ya dulu aku masih takut dan ragu karena tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku. Ah ini memang norak, tapi kamu tahu aku bisa lebih lugas menyuarakan hatiku lewat bahasa tulisan. Katamu wanita memang sulit dimengerti kan? Seperti diskusi kita soal pelukan malam itu, aku sendiri bingung bagaimana sebenarnya yang kuinginkan, hingga aku sadar pelukanmu adalah candu yang membuatku merasa aman dan nyaman. Sudah beberapa hari aku tidak sempat menulis di blog ini. Aku terlalu sibuk, sibuk menyayangimu, ahahaha.. ini semacam serangan mas.…
-
Nyali Terakhir
Belahan jiwa dekatlah kepadaku Kuingin engkau tahu kumengagumimu Engkau dan aku bagaikan doa yang mengikat Dalam setiap langkahku namamu kusebut Ku jatuh.. Ku jatuh kembali padamu Hanya denganmu kulepas semua raguku Hatiku… Hatiku jatuh kepadamu Seluruh semangatku jatuh dan jatuh kepadamu Kau nyali terakhirku
-
YOGYAKARTA
Timurmu adalah tempatku pertama kali menyapamu setiap kali aku datang, dan dalam hatiku selalu berkata, “Aku pulang.” Selatanmu adalah tempatku melepaskan segala bebanku, membiarkan mereka pergi ke lautan, tersapu ombak dengan deru yang menenangkan. Tengahmu adalah tempatku dulu menuntut ilmu, menikmati masa mudaku, menapaki setiap jalan yang penuh dengan manusia yang tidak aku kenal. Utaramu adalah tempatku mendinginkan hati yang mendidih karena amarah, menyentuh titik-titik embun yang menjadikanku suci di ketinggian. Baratmu adalah tempatku mengadu, merindu, dan menumpahkan segala resahku, karena lelaki yang paling kusayangi ada di baratmu. Good manku. Aku mencintaimu dengan semua kehidupanku yang pernah ada di dalammu. Aku telah melewati bagian tersulit dan terindah di hidupku di…
-
Menenangkan Rindu
Kepada rindu yang tak tersalurkan. Yang di dalamnya ada rahasia yang hanya diketahui oleh Tuhan. Dear rindu, Percuma rasanya menanyakan bagaimana kabarmu, karena kamu akan semakin menggila. Dan aku takut setiap kali aku bertanya, kamu malah tak dapat dibendung. Seperti air yang meluap karena tidak lagi dapat ditampung oleh sebuah bendungan. Keluar begitu saja, lalu lari tanpa kendali. Aku baik-baik saja. Surat ini aku tuliskan hanya untuk menenangkanmu, meskipun aku tidak yakin rentetan kata-kata ini mampu membuatmu tenang. Tapi setidaknya kamu tahu bahwa aku tidak tinggal diam. Kamu tahu? Setiap malam aku berdoa – semoga kamu segera sembuh. Ya. Kamu sakit, rindu. Rindu itu sakit. Ah, jangan mengelak. Rindu itu…
-
Tuan di Ibukota
Pagiku telah disabotase hujan, seolah ia yang memiliki kuasa atas semesta. Matahari nampak terpenjara dalam guratan mendung yang membabi buta. Tuan, apa kabar Jakarta? Saya harap Tuan sedang berbahagia di sana. Saya telah menitipkan rindu melalui angin semalam, apakah Tuan merasakannya? Jika iya, berarti angin tidaklah salah tujuan. Tuan.. Sempatkah Tuan berfikir akan takdir? Seperti misalnya, saya mengasihi Tuan atas dasar takdir. Atau juga misalnya, selama ini Tuan adalah takdir saya? Oh, atau mungkin Tuhan mengirimkan takdir saya melalui Tuan? Dan jika memang takdir, maka di takdir manapun nantinya “kita” pasti akan dipertemukan. Begitu seharusnya bukan? Hahaha… konyol. Seharusnya saya tidak perlu melebih-lebihkan, bahkan Tuan saja juga pasti tidak akan…
-
Dear Good Man
Dear my good man, Tujuh hari sebelum hari ulang tahunku tiba, ada surat yang perlu kamu baca. Jutaan detik telah kubagi denganmu. Sebanyak itu pula rasa yang terlahir saat dua pola pikir kita mulai beradu. Bicara ini itu, sampai lupa waktu. Aku ingat jelas, dulu kita hanya punya satu topik untuk diutarakan. Topik yang selalu menarik dan mengusik. Mungkin kata “pembawa damai” adalah awal pertemuan dari persahabatan yang kita jalankan. Meskipun waktu itu kita belum bertemu, masih hanya lewat tegur menegur dengan kata lewat media sosial yang mendekatkan kita, tapi rasanya aku senang memiliki cerita untuk dibagi bersama. Sebenarnya dulu pun kita belum sedekat sekarang. FB Messenger yang paling berperan…
-
Kepada Seseorang di Kereta
Mungkin saat ini kamu sudah duduk di kereta, sibuk dengan handphonemu atau melihat ke luar jendela. Belum sampai saja aku sudah ingin kamu cepat kembali. Haha… Entahlah, kadang rindu sangat aneh. Kadarnya bertambah malah setelah kita bertatap muka. Sebelum kita bertemu kemarin, aku pikir 3 jam cukup untuk persediaan rindu beberapa waktu ke depan. Namun ternyata kamu candu. Aku tidak munafik, jika diberi pilihan aku ingin kita tidak seberjarak ini. Dekat dengan kamu adalah hal yang paling menyenangkan sedunia. Tetapi aku sudah memilih untuk cukup menyimpanmu di hati saja, lengkap dengan 61,5 km dan berhari-hari tak melihatmu. Iya iya.. aku masih yakin dan terus berdoa. Tuhan merentangkan jarak ini agar…
-
Kuberikan Setengah Hatiku, untuk Kenang-kenangan
Awalnya memang menyakitkan, kemudian semakin menyakitkan. Sudah… sekarang, sebelum semakin-semakin menyakitkan lagi, aku kembalikan saja hatimu yang aku bawa kemana-mana. Aku berniat meminta kembali hatiku yang kamu bawa-bawa, tapi setelah aku pikir matang-matang, tidak perlu kamu kembalikan, simpan saja selama kamu suka. Mungkin sebenarnya kamu yang belum bisa melepaskan, itulah kenapa aku yang melepaskan terlebih dulu. Mungkin kamu berlaku kasar, karena kamu takut aku mengambil paksa. Tenang saja, aku merelakan. Kalau selama ini aku sulit melepaskan, itu karena aku ketakutan. Takut akan sulit menemukan setengah dari hatiku lagi. Sekarang, hatiku memang belum utuh, tapi kamu tahu? Ada yang berbaik hati memberikan perhatian, supaya hatiku berkembang menjadi besar. Menjaga supaya tidak…


















