Aku dua bersaudara, perempuan semua.
Kira-kira delapan tahun lamanya aku menjadi anak tunggal, menjadi anak kesayangan ayah, cucu kesayangan nenek kakek. Sampe suatu ketika ibuku memutuskan untuk hamil lagi, memberikan adik buatku, laki-laki, yah.. karena aku sudah perempuan.
Awalnya ayahku tidak setuju, karena menurut beliau, aku saja sudah cukup, hehehehe…
Tapi ibu tetap pada keputusannya, hamil lagi, karena banyak anggota keluarga yang mendukung, terutama aku yang ingin sekali punya adik.
Dimulai dengan ibu yang tiba2 jatuh sakit, bed rest, muntah2 parah sekali. Ternyata ibu hamil, dan telernya minta ampun. Tiga bulan awal kehamilan aku dan ayah dibuat repot gak ketulungan. Karena ibu bedrest, otomatis aku dan ayah bagi tugas mengerjakan pekerjaan rumah.
Saat itu hari jumat, aku pulang jam 11 dijemput kakek. Yah, aku masih kelas 2 SD. Sampai di rumah, ternyata rumah sudah sepi, hanya nenek yang sedang sibuk menyiapkan baju2 ibu, ternyata ibuku melahirkan! Aku deg2an bangettt..
Akhirnya aku ikut nenek pergi ke klinik, yahh klinik. Adikku dilahirkan di klinik bersalin yang sekarang sudah tutup, hahahahaha…
Adikku perempuan, dengan berat 3,6 kilogram, berat sekali untuk ukuran bayi, perempuan lagi. Ada cerita lucu saat di klinik itu, nenekku dibuat malu sama adikku yang masih bayi itu, selain suara tangisannya yang amat sangat keras (mengganggu penghuni klinik yang hanya terdiri dari 3 kamar itu :p), susunya juga sangat amat rakus! Masa susu jatah bayi kamar sebelah diembat juga sama adikku, ckckckckck…
Adikku lahir di bulan September 1995, tanggal 15, Jumat Pahing, sekitar pukul 11 pagi. Sempat terjadi perdebatan saat ibu ingin memberi nama adikku. Awalnya, ibu ingin memberi nama Septiani karena dia lahir di bulan september, hahahaha.. Untungnya ayah punya alternatif nama juga, jadinya aku punya pilihan. Aku memilih nama “Avie Eldeka Putri” karena menurutku keren aja, itu yang ada di pikiran gadis kecil kelas 2 SD. Aku dibantu kakak sepupuku saat memilih nama itu.
Aku tak pernah lepas dari tumbuh kembang adik bayiku. Kalo ibu lagi sibuk, aku yang selalu menjaganya, dari ngasih makan, mandiin, ngajak main. Sebenarnya pekerjaan berat sih, gimana enggak? aku yang kala SD super cungkring harus menggendong bayi segede kingkong, makanya aku gak bisa tinggi (dapet alesan).
Tapi pernah juga aku menjatuhkan adikku dari gendonganku, saat itu ibu marah besar, dan seperti biasanya, aku selalu mengadu pada nenekku..
Bisa dibilang aku sangat dekat adikku, dan dia sangat patuh terhadapku, karena aku selalu tegas dan galak dalam mendidiknya, hahahahaha…
Beranjak besar, kami mulai bisa share tentang segala hal, yang jelas sih share tempat tidur dan kamar mandi. Yaaa.. kami suka banget mandi bareng. Banyak hal yang sering kami lakukan bersama, walau jarak kami terpaut hampir 8 tahun, tapi semakin adikku beranjak besar, kami semakin punya visi hidup yang sama.
Sampai saat aku harus kuliah ke luar kota. Saat itulah untuk pertama kalinya kami terpisah untuk waktu yang cukup lama. Rasanya sepi kalo gak ada adikku. Gak ada yang bisa aku ledekkin, aku suruh2, aku becandain sampe marah, hahahahaha…
Dan sekarang, saat aku sudah pulang ke rumah lagi. Tadinya dia punya kamar sendiri, dan katanya takut sama kamarku (yang ada di bagian rumah paling belakang). Tapi nyatanya sekarang, dia ikutan tidur pula di kamarku, sekamar lagi. Si gendut satu itu memang gak pernah bisa jauh dariku. 🙂




