Uncategorized

Terorisme dan Mengajarkan Toleransi pada Anak

Tentu semua tahu apa yang terjadi kemarin di 3 gereja di Surabaya, Indonesia berduka. Saya kog kurang sreg dengan hashtag #kamitidaktakut, karena sebenarnya saya takut, itulah kenapa saya tidak ikut-ikutan yang lain menuliskan hashtag tersebut di akun media sosial saya.

Iya saya takut. Pagi itu saya mendengar kabar peledakan bom di gereja tepat saat dalam perjalanan berangkat ke gereja, bersama anak-anak, siapa yang gak parno? Apalagi setelah tahu bahwa ada korban anak-anaknya juga. Karena ketakutan kami (saya, pasangan, dan mamanya anak-anak), kami pun memutuskan untuk membatalkan rencana nonton sepulang gereja. Sebaiknya kami semua di rumah dan menghindari keramaian sampai suasana kondusif. Hal ini membuat si kecil ngambek, dia tidak marah, tapi kecewa karena gak jadi nonton. Mana dia paham apa itu terorisme di usia sekecil itu.

Sang kakak yang ikut berempati dengan kekecewaan adiknya merasa kesal dengan kejadian terorisme pagi itu, karena peristiwa itu semua jadi takut, gagal nonton, dan membuat adiknya sedih. Tiba-tiba si kakak bertanya pada papanya, “Teroris itu Islam kan pah? Orang Islam jahat ya pah?. Nah, saat-saat ini peran kami sebagai orang tua dan orang yang lebih tua (sedikit) adalah memberikan info yang benar kepada si anak. Papanya menjawab, “tidak semua orang Islam begitu kak, Mba Yuni (ART di rumah anak2) agamanya Islam kan? Dia baik gak sama kamu dan Lexa? Baik dan sayang kan sama kalian. Jadi kak, tidak semua orang Islam jahat, banyak juga orang Islam yang baik, jadi kita tidak boleh membenci orang Islam ya.” Dan kakak mengangguk tanda mengerti.

Tugas orang tua di zaman now ini semakin berat rasanya. Zaman di mana toleransi terasa begitu mahal dan langka. Orang tua harus pandai-pandai memilihkan sekolah yang baik dan menjunjung tinggi toleransi, orang tua harus memilihkan lingkungan yang sehat buat mereka. Kadang saya takut membayangkan zaman saat anak-anak sudah dewasa kelak akan seperti apa? Akankah menjadi lebih baik atau semakin intoleran? Bukankah tugas kita dari sekarang untuk mengajarkan mereka dengan benar apa itu toleransi?

Saya hampir 4 tahun lamanya pernah bekerja di dunia pendidikan, di mana murid saya beragam dari berbagai etnis, suku, agama. Pernah suatu ketika saya sedang mengajar eksul di sebuah sekolah swasta Islam, kebetulan anak-anak dekat dengan saya dan maunya deket-deket duduknya sama saya. Sampai akhirnya ada seorang anak yang menyadari saya memakai kalung salib. Anak itu seketika terperangah kaget. “Loh, Miss Ang Kristen ya? tanyanya penuh keheranan. Karena suaranya cukup keras, otomatis teman-temannya yang lain mendengar, menoleh, dan ikutan kepo. Mereka mengerubungi saya dengan wajah nano-nano, semacam ada kekecewaan kenapa ekskul teacher kesayangan mereka agamanya tidak sama. Mereka kelas 2 SD. Ada seorang anak dengan polosnya bertanya, “Miss Ang Kristen tapi kog baik?”
“What??? memangnya kenapa kalau Miss baik?”, tanyaku.
Murid yang lain menimpali, “Kata bu guru orang Kristen gak baik Miss, nanti masuk neraka. Miss Angga jadi Islam aja biar masuk surga, Miss Angga kan baik.”
JLEB! Rasanya guru yang ngajarin kaya gitu mau saya timpuk pakai lego! Bukankah sebagai guru harusnya mengajarkan hal yang baik dan benar kepada anak didiknya, mereka ini aset bangsa loh, penerus bangsa ini kelak, kenapa diracuni dengan hal intoleran seperti ini? Sedih melihat fenomena anak usia 7-8 tahun sudah dicecoki untuk membenci agama lain. Akhirnya saya yang harus menjelaskan kepada anak-anak ini bahwa semua agama itu baik, semua orang baik, agak susah memang mengajarkan makna toleransi pada anak sekecil itu yang sudah terlanjur terdoktrin pemahaman yang salah. Tapi setidaknya saya berusaha, dan nyatanya mereka tetap dekat dan menyayangi saya.

Yuk belajar menghilangkan virus radikal, intoleransi dan terorisme, dimulai dari diri kita sendiri dulu. Memang saya takut, tapi bukan berarti diam saja dan tidak bergerak. Caranya bagaimana? Dimulai saja dengan lingkungan terdekatmu. Kalau ada temanmu yang mulai ngelantur pemahamannya tentang agama, kamu bisa coba untuk mengingatkan. Jika ada yang mengirim berita hoax, kebencian di WAG, kamu bisa menegurnya. Jika kamu menemukan akun-akun yang menyebarkan isu terorisme, kebencian, dan intoleransi, kamu bisa laporkan ke email kominfo. (bisa googling ya)

Kita berani melawan terorisme. Kita bangsa yang kaya dengan keanekaragaman agama, etnis, dan budaya, dan kita seharusnya bangga akan itu. Kita satu, kita Indonesia.

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *