Curhat

Repotnya Kuliah (lagi)

Apakah ini post pertama saya di tahun 2011?
Emm.. sebelumnya, ini bukan cerita tentang saya, bukan saya yang kuliah (lagi), bukan..
Ini tentang bapak saya.

Sore tadi, saat saya sedang nongkrong di depan kompi (nongkrong?). Bapaknya saya tiba2 datang dan minta tolong dibukain emailnya. Maklum.. bapak saya termasuk orang jadul yang cukup awam dengan teknologi, jangankan buka dan kirim email, emailnya saja beliau sering lupa. Eh, btw.. email bapak saya harinto19@gmail.com hehehehehe…

Singkat cerita, Bapak saya menunggu email balasan dari sang dosen tentang tugas yang sudah dikumpulkannya by email beberapa hari yang lalu. Setelah saya cek inbox, ternyata email yang ditunggu sudah datang. Dan di dalam email tersebut jelas2 tertulis “Maaf, tugas belum benar, tidak bisa dinilai, untuk lebih jelasnya silakan melihat lampiran”.

Yah benar.. Tugas Bapak ditolak aka dikembalikan untuk diperbaiki kembali. Dalam tugas yang dikembalikan itu terdapat banyak catatan kesalahan dari sang dosen yang dicetak tebal dengan font warna MERAH!!!!

Hahahahaha… bisa dibayangkan betapa betenya Bapak saya. Dan beliau mulai menggerutu dan curhat sama saya, bilang dosennya rese lah, maunya aneh2 lah, nyebelin… Dan saya hanya bisa berkata,” yaaa… begitulah Pak rasanya kuliah (lagi)”. Dan saat itu saya tersenyum puas.

Akhirnya, bapak bisa merasakan gimana repotnya jadi anak kuliahan. Gimana pusingnya bikin tugas yang bertumpuk-tumpuk. Huuu.. dulu aja bilang aku cemen kalo mulai ngeluh sama tugas kuliah, rasakan sekaran wahai Bapak :p

Cerita gak sampai di sini saja,
Setelah itu bapak berniat merevisi tugasnya yang kata sang dosen “amburadul” tersebut. Dimulai dengan googling tentang “gender barung”. Em.. sebagai anak IT, saya sama sekali tidak paham apa itu “gender”, apakah alat musik, jenis notasi, atau apa.. yang jelas itu adalah istilah dalam bidang etnomusikologi.

Dicari-cari, ternyata tidak ada artikel tentang “gender” dalam bahasa indonesia yang lengkap dan infonya memadai. Kebanyakan semua berbahasa inggris. Saat itu bapak saya mulai panik menyadari bahasa inggrisnya tidak lebih dari yes dan no, hehehehe…

Karena saya baik, maka saya perkenalkanlah Bapak dengan fasilitas yang bernama “google translator”. Bapak mulai senang ketika tahu ada teknologi yang bisa disuruh2 menerjemahkan berbagai bahasa tersebut. Mulailah bapak mencopypaste artikel tersebut ke dalam google translator. Setelah diterjemahkan, akan Bapak ringkas, begitu rencananya…

Ketika sedang meringkas, tiba2 Bapak tersentak kaget, dengan wajah syok, Bapak kembali mendatangi saya dan kembali protes. “Ngga, kuwi mau aplikasi opo? sarune ra umum, moso tentang musik og terjemahane isine jenis kelamin kabeh.” —- “Ngga, itu tadi aplikasi apa? gak sopan, masa artikel musik terjemahannya banyak berisi kata kelamin?”

Bapak syok dan mulai meragukan kemampuan sang google translator, karena menurut Bapak, si google ini gak becus menjalankan tugasnya. Hahahahahaha… saatnya itu saya serba salah, antara geli pengen ngakak, tapi harus dengan sopan menjelaskan kepada Bapak pokok permasalahannya. Hahahahahaha…. (tapi saya tidak bisa menahan ngakak, bahkan sampe sekarang saya masih geli mengingatnya).

Begitulah, google translator menerjemahkan tentunya secara mentah, karena dia mesin, pastinya bekerja berdasarkan logika saja, gak pake perasaan. Jadi.. istilah “gender” dalam etnomusikologi tersebut dianggap google sebagai “gender” dalam bahasa inggris yang artinya jenis kelamin.

Hahahahaha…
Akhirnya Bapak menyerah, alangkah lucunya sore tadi 🙂

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *