Random Talk

Tiga Hari Menuju 2026: Persiapkan Hatimu

Ada fase sebelum tahun baru yang selalu terasa lebih sunyi, tapi juga lebih jujur. Tiga hari terakhir bukan cuma soal menghitung mundur pergantian angka, tapi tentang hati yang mulai lelah membawa terlalu banyak cerita. Di titik ini, aku merasa manusia memang butuh pause. Bukan untuk menyerah, tapi untuk membereskan. Karena sejauh apa pun kita melangkah ke 2026, kalau isi hati masih penuh sisa 2025, langkah itu akan selalu terasa berat. Maka sebelum resolusi ditulis dan mimpi baru disusun, ada lima hal yang menurutku perlu dibereskan pelan-pelan.

1. Memaafkan: Melepaskan Beban yang Diam-Diam Mengikat

Memaafkan adalah pekerjaan batin yang sering kali tidak kelihatan hasilnya secara instan. Kita terbiasa mengira memaafkan berarti berdamai dengan apa yang salah, padahal tidak sesederhana itu. Ada luka yang memang tidak pantas dibenarkan, ada perlakuan yang tetap salah meski sudah berlalu bertahun-tahun. Namun menyimpan amarah terlalu lama perlahan mengubah kita menjadi orang yang lelah tanpa sadar. Hati jadi sempit, pikiran mudah curiga, dan kebahagiaan terasa selalu tertunda. Memaafkan bukan tentang memberi tiket bebas pada orang lain, melainkan tentang membebaskan diri dari penjara emosi yang kita bangun sendiri. Kamu boleh tetap ingat, kamu boleh tetap belajar, tapi kamu tidak harus terus menyimpan marahnya. Karena pada akhirnya, hatimu lebih layak mendapat kedamaian daripada terus menjadi tempat penitipan luka orang lain.

2. Evaluasi Diri: Jujur Tanpa Menghakimi

Evaluasi diri sering terdengar seperti kalimat berat yang penuh tuntutan, padahal seharusnya menjadi ruang aman untuk jujur pada diri sendiri. Tahun 2025 mungkin tidak berjalan seperti yang kamu rencanakan, dan itu tidak apa-apa. Tapi ada pelajaran yang terlalu mahal kalau dilewatkan begitu saja. Apa yang membuatmu jatuh? Pola yang sama? Orang yang sama? Atau keputusan yang kamu tahu sejak awal tidak sehat tapi tetap kamu jalani? Evaluasi bukan untuk menyalahkan versi dirimu di masa lalu, karena dia bertahan dengan kapasitas terbaik yang ia punya saat itu. Evaluasi ada supaya kamu tidak mengulang luka yang sama dengan kesadaran yang lebih tinggi. Karena dewasa bukan soal tidak pernah jatuh, tapi soal tidak berkali-kali jatuh di lubang yang sama.

3. Bersyukur: Melihat Kebaikan di Tengah Kekacauan

Bersyukur di tahun yang berat sering terasa seperti hal paling sulit untuk dilakukan. Saat doa tidak langsung dijawab dan rencana berantakan, rasa syukur terasa jauh dan asing. Tapi kalau ditarik garis ke belakang, masih ada banyak hal kecil yang sebenarnya menopang kita sampai hari ini. Nafas yang masih teratur, tubuh yang masih mau bangun setiap pagi, dan hati yang masih bisa merasa, itu semua bukan hal sepele. Bersyukur bukan berarti menutup mata dari rasa sakit, tapi mengakui bahwa di tengah kekacauan, Tuhan tetap memberi cukup. Mungkin tidak sesuai harapan, tapi selalu sesuai kebutuhan. Saat kamu mulai menghitung hal-hal kecil yang masih kamu miliki, pelan-pelan beban terasa sedikit lebih ringan. Dan dari rasa syukur itulah, kekuatan untuk melangkah ke depan sering kali lahir tanpa disadari.

4. Bereskan Hubungan dengan Tuhan: Datang Apa Adanya

Sering kali kita datang kepada Tuhan dengan bahasa yang terlalu rapi dan doa yang terlalu terkonsep. Padahal dalam realitasnya, hati kita sedang berantakan dan lelah. Tuhan tidak pernah meminta kita tampil kuat atau terlihat baik-baik saja di hadapan-Nya. Justru doa paling jujur sering lahir dari air mata yang tidak direncanakan. Membereskan hubungan dengan Tuhan bukan soal panjangnya doamu, tapi kejujurannya. Mengakui bahwa kita lelah, kecewa, bahkan marah pun bukan dosa jika disampaikan dengan hati yang terbuka. Di titik ini, kita belajar bahwa iman bukan tentang selalu kuat, tapi tentang selalu kembali. Dan sering kali, ketenangan terbesar datang bukan setelah semua masalah selesai, tapi setelah kita berhenti berpura-pura di hadapan Tuhan.

5. Melepaskan yang Tidak Lagi Sejalan: Bentuk Kedewasaan yang Sunyi.

Tidak semua orang dan hal yang hadir di hidup kita ditakdirkan untuk tinggal selamanya. Ada yang datang untuk menemani proses, bukan tujuan akhir. Melepaskan sering disalahartikan sebagai kegagalan, padahal bisa jadi itu adalah bentuk keberanian paling dewasa. Prioritas berubah seiring bertambahkan usia dan pengalaman, dan itu adalah hal yang wajar. Bertahan pada sesuatu yang tidak lagi sejalan hanya akan membuat kita kehilangan diri sendiri pelan-pelan. Melepaskan bukan berarti membenci, tapi memilih untuk tidak lagi memaksakan. Ada hubungan, kebiasaan, bahkan mimpi lama yang perlu disudahi dengan lapang dada. Karena ruang yang kosong sering kali dibutuhkan agar hal yang lebih sehat bisa masuk.

Memasuki 2026 dengan Hati yang Lebih Ringan

Kita tidak perlu memasuki 2026 sebagai versi yang sempurna dan tanpa luka. Cukup menjadi versi yang lebih sadar, lebih jujur, dan lebih lembut pada diri sendiri. Tiga hari terakhir ini bukan tentang seberapa banyak target yang harus dicapai, tapi tentang apa saja yang perlu ditinggalkan. Jangan bawa dendam, rasa bersalah, dan kelelahan yang tidak perlu ke tahun yang baru. Biarkan 2026 dimulai dengan hati yang lebih ringan dan napas yang lebih lega. Karena hidup akan tetap berjalan, tapi setidaknya kali ini, kamu melangkah dengan beban yang lebih ringan.

MGAA

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *