Uncategorized

Teruntuk Calon Gadisku Kelak

Anakku,
Kau tahu, bila kau diberi kesempatan untuk mengikuti seluruh gerak-gerik ibumu ketika mengandungmu, melihat seluruh sketsa hidup yang ia jalani bersamamu di perutnya, kuyakinkan kepadamu bahwa ia melakukan segala hal yang terbaik yang ia bisa lakukan untuk menjagamu, merawatmu, memberikan segala yang terbaik untukmu.

Halo calon gadis kecilku yang lugu, sedang apa sayang? Mungkin kau masih senang-senangnya di langit sana ya. Bermain dengan teman-teman kecilmu. Ibu tahu, bahagia pasti rasanya. Aku sebagai calon ibumu tidak khawatir kok sayang karena aku yakin para malaikat Tuhan pasti sedang menjagamu dengan baik di sana.

Calon gadis kecilku, tahukah kamu, ibu malah mengkhawatirkan dirimu kelak jika lahir di dunia yang kejam ini. Kau tahu tidak tentang kisah teman-teman ibu yang walau mereka dari keluarga baik-baik, terlihat seperti perempuan baik-baik tapi tetap saja mereka masih bisa terjerumus dalam pergaulan yang salah. Aku tak ingin kelak kau menjadi seperti itu calon gadis kecilku.

Nak, ingin rasanya ibu kuliah lagi di jurusan psikologi, semacam mimpi ibu yang belum menjadi kenyataan. Ibu memilih jurusan itu untuk dirimu calon gadis kecilku, karena nanti ibu akan mengambil psikologi perkembangan anak. Ibu tidak ingin salah langkah dalam membesarkanmu. Ibu ingin kamu dapat tumbuh menjadi gadis manis yang pintar. Pintar dalam bergaul, pintar dalam menjalankan ibadahmu, dan pintar dalam menyelesaikan semua masalah yang akan kau hadapi kelak.

Ibu tak ingin salah mendidikmu sayang. Ibu tak ingin kau menganggapku ibu yang terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tidak mempedulikan masalah-masalah yang sedang kau hadapi. Ibu tak ingin menjadi seorang ibu yang hanya akan ada penilaian buruk jika kau mendengarkan kata “ibu”.

Anakku, kamu harus menjadi perempuan yang lebih baik dalam segala hal daripada ibu. Kamu akan menjadi perempuan tangguh, punya sikap, dan bisa menjaga kehormatanmu dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Ibu tak ingin kelak kau menjadi seperti diriku sayang. Seperti seorang maling, ia tak ingin anaknya juga menjadi seorang maling toh?

Itulah sebenarnya kekhawatiran ibu sayang, aku tak ingin kau menjadi sepertiku.

Selain itu, masih banyak kekhawatiranku yang lain tentang dirimu kelak calon gadis kecilku. Ibu takut kau salah pergaulan. Ibu tak ingin kau seperti teman-teman ibu yang salah mengartikan rasa sayang ibunya. Ibu yang selalu membelanya di saat dia salah, malah membuat dia tidak belajar dari kesalahan. Tentu saja melakukan kesalahan karena ia yakin jika ia melakukan kesalahan lagi, ibunya akan selalu membelanya. Lalu marah di saat ibunya marah, malah ia semakin memberontak.

Padahal marah adalah tanda sayang. Tetapi banyak yang salah mengartikannya calon gadis kecilku. Dalam ilmu psikologi, ibu belajar tentang emosi. Marah bisa ditunjukkan dalam bentuk assertif. Assertif adalah mengungkapkan sesuatu secara tegas, apa adanya, dan tidak menyakitkan. Lebih baik tegas setiap hari demi kebaikan, daripada diam saja lalu sekalinya berbicara hanya untuk marah ketika kesalahan sudah menjadi besar. Ibu tidak ingin kau mengecap ibu sebagai ibu yang pemarah.

Ibu berpikir untuk menuliskan saja apa yang sebenarnya ibu khawatirkan sayang. Ibu ingin menulis sebuah buku untukmu. Tentang kisah masa muda ibu, tentang masa muda teman-teman ibu, dan tentang kesalahan masa muda ibu untuk kau ambil pelajaran kelak. Ibu takut kelak ibu lupa bahwa ibu tak luput dari kesalahan dan memaksamu untuk menjadi sempurna.

Ibu tak ingin banyak bicara, ibu takut kau akan melabeli diri ibu ini sebagai seorang ibu yang bawel. Mungkin dengan kau membaca tulisan-tulisan ibu kau lebih dapat memahaminya, betapa inginnya diri ibu untuk memberikan yang terbaik untukmu.

Salam rindu, calon ibumu yang selalu menanti dan mengkhawatirkan dirimu.

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *