Curhat

Tata Krama Anak Zaman Sekarang

Baru-baru ini aku ketemu teman lama, tepatnya temen satu gereja pacar aku. Masih muda siy, mungkin 3-5 tahun di bawah aku dan pacarku.
Singkat cerita, waktu kita ketemu kita ngobrol tentang banyak, salah satunya ngomongin cowoku yang kakak rohaninya di gereja. Dalam pembicaraan itu aku sengaja menyebut nama cowo aku dengan sebutan tambahan “mas” di depan namanya, tapi anak ini malah protes..
“Loh, kog manggilnya pake mas toh, bukannya biasanya manggilnya “pah”?
Akupun menjawab, “aku manggil mas kan membahasakan kamu, kamu kan manggil dia mas toh?”
Sang anak ini menjawab, “aku gak pernah manggil dia (pacarku red) “mas” kog, aku manggil namanya aja, biar lebih akrab gitu..”

Kaget juga denger jawaban dia. Aku gak tau apakah akunya yang terlalu kolot, atau perbedaan usia kami yang cukup jauh, sehingga punya persepsi berbeda tentang hal panggil memanggil.

Mungkin dia, sebagai anak zaman sekarang, lebih nyaman dengan memanggil “hanya nama saja”, tanpa embel2 mas, mbak, atau lainnya. Iya.. aku tau, temenku yang orang Belanda juga tidak mengenal apa itu mba atau mas, bahkan memanggil ibuku saja langsung nama, tanpa embel2 tante, hehehehe…

Melihat sikap temenku yang orang Belanda itu siy aku maklum. Tapi dengan adik yang satu ini tidak. Kita masih tinggal di Indonesia dek, di Solo dek, yang aku tau sangat menghargai tata krama itu sendiri. Buat apa kata “mba, “mas itu diciptakan kalo gak digunakan???

OK, alasannya supaya lebih akrab. Yakin orang yang kita panggil itu lebih nyaman dengan panggilan cuma nama aja? Engga. Cowo’ku gak suka dipanggil hanya namanya aja oleh orang yang jauh lebih muda darinya. Cowo’ku merasa gak dihargai, “ra kajen” bahasa jawanya.

Buat adek2ku, aku gak tau ini salah siapa. Apa karena pelajaran Tata Krama sudah dianggap kurang penting tergeser oleh matematika, fisika, bahasa inggris. Atau alasan apapun. Yang jelas, memanggil orang yang lebih tua dengan tambahan “mas, atau “mba, rasanya lebih sopan dan lebih nyaman didengar deh. Dan pastinya orang yang kita panggil lebih merasa dihargai sebagai orang yang lebih tua.

Bukannya dalam PPKN maupun pelajaran agama kita selalu diajarkan untuk menghargai dan menghormati orang yang lebih tua??? Apa susahnya siy menyenagkan hati orang lain dengan cara yang sederhana seperti itu???

amities..

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *