Di drama legend Reply 1988, sosok Sung Bora memang mudah sekali dicap sebagai perempuan keras. Nada bicaranya tinggi, ekspresinya tajam, emosinya cepat meledak, dan hampir setiap kemunculannya selalu diwarnai teriakan pada Deok-sun atau perdebatan sengit dengan orang lain. Bahkan orang-orang menjulukinya sebagai “cewek gila Ssangmun-dong”, seolah temperamennya adalah identitas utamanya.
Tapi setiap kali aku menonton ulang drama ini, aku selalu merasa ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar label “galak”. Ada kesunyian yang tidak terlihat. Ada lelah yang tidak pernah benar-benar dia akui. Dan mungkin karena itu, aku merasa sangat dekat dengan Bora.
Sebagai anak pertama, aku tahu rasanya dilihat dari luar sebagai sosok yang tegas, kuat, bahkan intimidatif. Orang jarang bertanya, “Kamu capek gak?” karena mereka mengira aku selalu baik-baik saja. Sama seperti Bora.
Ketika Anak Sulung Dipaksa Tumbuh Lebih Cepat.

Bora adalah anak sulung yang hidup di keluarga sederhana. Ia tumbuh di masa sulit, ketika kondisi finansial keluarga tidak selalu stabil, ketika orang tua harus berjuang keras untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dalam situasi seperti itu, anak pertama sering kali secara tidak sadar mengambil peran tambahan: menjadi penopang, menjadi contoh, menjadi kebanggaan.
Dalam teori urutan kelahiran dari Alfred Adler, anak sulung kerap berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab, perfeksionis, dan cenderung merasa harus berhasil demi keluarga. Mereka terbiasa memikul ekspektasi. Mereka belajar untuk tidak banyak mengeluh. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi kuat adalah kewajiban, bukan pilihan.
Bora masuk universitas ternama tanpa les mahal, aktif dalam gerakan mahasiswa, dan tetap peduli pada keluarganya. Namun, karena ia tidak mengemas semua itu dengan senyum manis atau kata-kata lembut, orang lebih mudah melihat ledakan emosinya daripada dedikasinya.
Dan di situlah sering kali kesalahpaham bermula.
Keras Bukan Berarti Tidak Punya Hati
Ada satu kalimat Bora yang selalu menempel di kepalaku: “Orang berhati hangat punya tangan dingin.” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi sebenarnya seperti pengakuan lirih. Ia tahu dirinya tidak pandai menunjukkan kehangatan secara terbuka. Ia tahu adiknya lebih mudah memeluk, lebih mudah berkata sayang, lebih mudah menangis. Sementara Bora? Ia memilih diam dan bertindak.
Ia mengantar Ibu Sun-woo ke rumah sakit di tengah malam tanpa banyak bicara. Ia memeluk dan menenangkan Sun-woo ketika ayahnya meninggal, memberikan kehadiran yang tidak dramatis tapi nyata. Ia mungkin tidak berkata “aku peduli”, tapi ia selalu ada.
Masalahnya, tidak semua orang mengerti bahasa cinta yang seperti itu.
Kebanyakan orang mengukur kehangatan dari ekspresi, bukan dari konsistensi. Banyak yang lebih percaya pada kata-kata daripada tindakan. Dan Bora, dengan caranya yang kaku dan tegas, pada akhirnya dianggap dingin.
Sebagai Abby yang juga anak pertama, aku sering mengalami hal yang sama. Ketika aku tidak pandai menunjukkan kelembutan secara verbal, orang menganggapku tidak punya empati. Ketika aku menjaga jarak untuk melindungi diri, orang menyebutku terlalu keras. Padahal sebenarnya, aku hanya tidak pernah diajarkan cara menjadi lembut tanpa merasa rentan.
Pengkhianatan yang Menguatkan Tembok
Salah satu luka terbesar Bora datang dari pengkhianatan kekasihnya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ironisnya, sang pacar pernah menyebut Bora dingin dan tidak cukup hangat sebagai pacar. Seolah-olah ketidakmampuannya memahami Bora menjadi alasan untuk mencari kehangatan di tempat lain.

Di scene ini aku ikut nyesek. Karena aku tahu rasanya disalahkan atas sesuatu yang sebenarnya hanya soal perbedaan cara mencintai. Aku tahu rasanya dikhianati oleh dua orang terdekat sekaligus, manusia-manusia yang paling kupercaya. Dan aku tahu bagaimana rasanya memilih tetap berdiri tegak, bukan karena tidak sakit, tapi karena harga diri lebih mahal daripada memohon untuk dipertahankan.
Bora tidak memaafkan dengan mudah. Banyak yang menganggapnya egois. Tapi bagiku, itu adalah bentuk perlindungan diri. Anak pertama sering kali terbiasa bertahan sendirian. Ketika dikhianati, mereka tidak runtuh di depan umum. Mereka menyimpan kehancuran itu diam-diam, lalu membangun tembok yang lebih tinggi daripada sebelumnya.
Dan dari luar, tembok itu lagi-lagi terlihat sebagai “dingin”.
Kenapa Sun-woo Bisa Melihat Versi Terdalam Bora?

Yang membuat kisah Bora berakhir indah adalah kehadiran Sung Sun-woo. Lebih muda darinya, lebih tenang, dan secara emosional jauh lebih matang. Sun-woo tidak jatuh cinta pada sisi galak Bora, melainkan pada kejujurannya. Ia melihat konsistensi Bora dalam kepedulian, kehadiran, dan kesetiaan pada nilai-nilai yang Bora percaya.
Sun-woo sendiri kehilangan ayah sejak remaja. Ia tahu rasanya menahan duka. Ia paham bahwa tidak semua orang mengekspresikan cinta dengan cara yang sama. Karena itu, ia tidak terintimidasi oleh nada tinggi Bora. Ia tidak tersinggung oleh ekspresi datarnya. Ia melihat sesuatu yang lebih dalam: ketulusan yang tidak dibuat-buat.
Mungkin memang dibutuhkan seseorang yang pernah terluka untuk bisa mengenali luka orang lain. Seseorang yang cukup tenang untuk tidak takut pada perempuan yang terlalu kuat.
Dan mungkin itu sebabnya Sun-woo bisa mencintai Bora dengan cara yang utuh. Ia tidak mencoba mengubahnya menjadi lebih lembut. Ia hanya memahami bahwa di balik sikap keras itu, ada hati yang sangat hangat.
Perempuan Keras Juga Ingin Dipeluk
Kadang aku berpikir, perempuan seperti Bora sering kali dianggap tidak butuh dilindungi karena terlihat mampu menjaga dirinya sendiri. Padahal kebenarannya jauh lebih sederhana: kami hanya terbiasa menjadi pelindung. Kami belajar sejak kecil bahwa menangis terlalu lama bukan pilihan. Bahwa mengeluh hanya akan menambah beban orang tua. Bahwa kuat adalah identitas.

Tapi menjadi kuat terus-menerus itu melelahkan.
Perempuan keras bukan berarti tidak ingin dicintai dengan lembut. Kami hanya jarang tahu bagaimana caranya meminta. Kami sering berkata, “Aku bisa sendiri,” padahal di dalam hati ada kalimat lain yang lebih jujur: “Tolong jangan tinggalkan aku hanya karena aku terlihat tidak membutuhkanmu.”
Bora mengajarkan bahwa seseorang bisa galak sekaligus tulus, keras sekaligus penuh kasih. Bahwa ekspresi bukan satu-satunya ukuran cinta. Dan bahwa anak sulung yang terlihat paling tegar sering kali adalah yang paling jarang diberi ruang untuk rapuh.
Sebagai Abby, sebagai anak pertama yang sering dipandang keras dan pernah mengalami pengkhianatan yang sama pahitnya, aku merasa cerita Bora seperti cermin. Ia mengingatkanku bahwa tidak ada yang salah dengan menjadi tegas. Tidak ada yang salah dengan menjaga harga diri. Yang salah adalah ketika dunia terlalu cepat menghakimi tanpa coba memahami.
Dan mungkin yang kita butuhkan bukan berubah menjadi lebih lembut agar diterima, tetapi bertemu orang yang cukup dewasa untuk melihat kehangatan yang sebenarnya sudah ada sejak awal.