Sabar ya Dek, sabar…
Di saat kita bukan siapa-siapa, tak punya wewenang, tak ada kuasa, tak berpangkat dan berjabatan. Yang paling gampang memang mangap selebar-lebarnya, berteriak. Yang paling mudah memang menuding dengan segenap jari yang kita punya.
Tapi sesungguhnya bapak dan ibumu ini ya ragu. Apakah kami memang sudah sempurna juga ya? Malu toh dek, mengeluhkan pekarangan orang yang kotor dan rusak, ternyata dalam rumah kita sendiri, kamar bahkan mungkin tempat tidur yang kita gunakan setiap hari debunya tebal.
Memang dek, baru debu.. belum jadi lumpur. Tapi katanya, sedikit-sedikit lama kelamaan menjadi bukit toh. Takutnya bapak ibumu ini, terlalu sibuk mengurusi pekarangan orang lain, hingga si debu rumah kita menjelma menjadi lumpur pun bisa-bisa kami tak sadar.
Sabar ya Dek, sabar…
Sebab bapak ibumu ini juga belum bisa memastikan seperti apa nanti masa depanmu. Barangkali kecerdasanmu akan membawamu pada pangkat yang tinggi, jabatan yang hebat yang artinya juga.. amanah yang besar?
Bapak ibumu ini ya deg-degan, apa cukup sanggup memberimu sangu iman dan kekuatan hati untuk menghadapi godaan di zamanmu nanti. Karena pasti ada godaan dek.. pasti banyak. Bahkan mungkin jauh lebih mengerikan daripada godaan di zaman bapak ibumu ini.
Sekarang saja kadang susah bagi kami.
Kalau sudah berbentur dengan kepentinganmu, kebahagiaanmu.. urusanmu, rasanya kami ingin segala yang “paling” bisa kami sediakan untukmu. Ya mungkin dengan kecil-kecilan mengabaikan kaidah benar salah, yang penting kalian bahagia dan nyaman… begitukah? Semoga tidak ya dek, semoga kami tetap memegang teguh perintah Allah dalam mendidik dan membesarkan kalian kelak.
Sabar ya Dek,
Nanti kamu pun akan sampai pada giliranmu. Untuk membuktikan kamu bisa tidak curang atas segala hal, dari yang terkecil dan tersembunyi, apalagi yang jelas tampak mata.
Nanti ya Dek,
Kalau kamu ada kuasa, ada pangkat, ada amanah. Baru nanti itu akan teruji, bagaimana bentuk jiwamu, bagaimana bangunan integritasmu, seberapa utuh nuranimu.
Bukan sekarang Dek,
Sekarang waktunya bapak ibumu ini untuk menanam rasa malu di dalam benak dan hatimu, bila dirimu sampai mengambil hak orang lain. Untuk mengajari rasa bersalah dalam dirimu, jika perbuatanmu merugikan orang lain. Untuk mendidikmu artinya aib, bila mencemooh perbuatan orang lain, tapi diri sendiri sebetulnya melakukan hal yang sama.
Sabar ya dek,
Sekarang biar bapak ibumu dulu bekerja keras. Mengisi pundi-pundi kantong sangumu dengan pelajaran kejujuran dari yang sepele dan remeh. Dari mulai matamu terbuka di pagi hari sampai menutup beristirahat di malam nanti.
Bersabar ya Dek, anteng-anteng tunggu giliranmu.
Dan bila saatnya tiba. Ada atau tiada bapak ibumu ini di sampingmu, semoga kuatlah pertahanan hatimu, selalu…


