Uncategorized

Rindu yang Bernyawa

Kepada kamu yang selalu membuatku rindu,

Sejak awal bertemu, aku tak pernah berpikir jika kau akan menjadi sepenting sekarang ini dalam perjalanan hidupku. Mungkin dalam buku kisah hidupku yang kujalani dari bab ke bab, namamu, kisahmu, kisah kita, akan tertulis lebih banyak. Aku berharap kamu bukan hanya sekedar menghiasi lembaran-lembaran kisah hidupku. Aku berharap di akhir buku itu, masih ada namamu, masih ada kisahmu, masih ada kamu yang selalu setia menemaniku. Layaknya sebuah kalimat perlu titik, aku juga butuh kamu menjadi akhir dari kisah kehidupanku.

Pagi berganti pagi. Malam menjelang, esok tiba lagi. Tiap kali kulihat sinar hangat mentari pagi, aku selalu teringat seseorang penuh kehangatan, yang mata sendunya tak pernah sekalipun gagal membuat hatiku luluh tak berdaya, yang setiap ucapan dari bibir lembutnya tak sekalipun pernah buat aku kecewa. Ya, kamu! Tahukah kamu akan ketidakberdayaanku saat berada di sampingmu? entah mengapa. Tapi apa peduliku? Akan kutukar apapun untuk sekedar mendapat kesempatan luar biasa melihat tatapan mata sederhana itu.

Hadirmu ibarat buah tangan waktu, kepada rindu yang patuh menunggu. Ah, mungkin memang aku harus berteman jarak. Bagaimana tidak, karena dengan begitu aku bisa mengerti tentang arti kata rindu. Ya, jarak memang mengajarkan betapa pentingnya tiap detik kesempatan. Aku tahu rindu. Dia sering mengingatkan aku padamu, teman yang baik memang. Rindu adalah kobaran api yang menari-nari disulut sepi. Rindu adalah aku yang dikalahkan oleh ketiadaanmu. Rindu adalah memaklumi kekurangajaran jarak dan waktu. Rindu mengajarkan kita yang bersatu untuk menghargai masa-masa berdua. Kini atau nanti, merindukanmu membuat ingatanku diayun-ayun sepi. Memang, aku merindukanmu yang bahkan kau pun tak tahu semegah ini aku merindukanmu.

Tanpa saling mengucap namun kita menyimpan rindu penuh harap. Tanpa saling mendekat namun kita merasakan cinta yang datang terlambat. Tanpa saling merangkai kata namun kita saling menyirat makna. Tanpa saling mengusik kita bisa merasakan cinta yang telah lama berisik. Tanpa saling mengungkapkan tapi kita bisa merasakan hati yang saling memikirkan. Tanpa saling berjanji kita bisa merasakan keinginan untuk menanti. Tanpa saling melihat kita bisa merasakan hati yang telah terikat. Tanpa mengeluarkan suara kita bisa merasakan hati yang seirama. Tanpa saling terbuka kita bisa merasakan cinta yang terselip di antara canda tawa.

Aku belajar merasa apa yang mati rasa, atas asa yang menjadi basa dan biasa, tapi nampaknya batinku hilang kuasa. Aku belajar mendengar yang tak mampu kudengar, semisal debat, muasal getar, apa yang membuat rindu tak lagi sabar. Aku belajar melihat yang kadang tak terlihat, dari isyarat hingga gelagat, mataku mencatat keindahan yang lamat-lamat.

Jujur saja, bagiku menunggu itu membosankan, dan sungguh aku benci untuk melakukan itu. Tapi jika menunggumu adalah hal terbodoh yang aku lakukan, anggap saja aku tidak pandai dalam hal ini. Aku tahu, kau mengerti betapa istimewanya kamu di mataku. Mungkin, caraku memahamimu berbeda dari kebanyakan orang. Jangan salah. Itu caraku menyimpan kenangan dan rindu secara bersamaan dalam sudut-sudut ruang hatimu. Saat kau mencariku, berbaliklah. Aku selalu di sini. Aku tetap di sini. Aku selamanya menunggumu di sini. Aku tak peduli seberapa jauh, atau seberapa lama kau pergi, saat kau kembali, kamu akan selalu menemukanku di sini.

Terima kasih, kamu yang begitu istimewa, Antonius Angga, yang membuat senyumku kembali bernyawa.

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *