Dear kekasih,
Ketika membaca tulisan ini, mungkin kamu akan tersenyum geli melihat betapa sentimentilnya aku.
Tulisan kali ini berbeda, aku menuliskannya di rumah manis, dengan laptopmu, sembari menunggumu pulang, tidak pernah ada perasaan seindah ini sebelumnya. Menanti kekasih pulang.
Aku tahu banyak hal yang membuat kita berbeda, tentu kamu menyadarinya. Banyak hal yang membuat kita terasa jauh. Bukan hanya puluhan kilometer jarak yang membentang antara kau dan aku.
Jika ada yang bisa kuhapus, aku ingin menghapus semua hal yang membuat kita berbeda. Jarak ini ingin aku hapus, agar aku bisa selalu menemui wujudmu, tanpa harus menunggu akhir minggu. Usia dan status ini, ingin aku samakan, agar orang awam tidak selalu mengomentarinya.
Namun kekasih, setelah aku pikir kembali, apakah kita akan tetap saling mencinta apabila keadaannya berubah? Bukankah kita sedang menjalankan rencana Tuhan. Jadi aku tidak akan mengeluh tentang keadaan yang kita alami. Mungkin dengan perbedaan ini kita bisa saling mengisi satu sama lain. Oh, betapa baiknya Tuhan kita.
Kekasih, mari kita menjalankan rencana Tuhan ini dengan baik, sebaik-baiknya yang kita bisa. Aku percaya kamu akan menjaga cawan cintaku, sepertiku aku yang memelihara cinta ini.
Kekasih, bila kamu telah membaca surat ini, katakan padaku bahwa kamu mencintaiku.
Selamat tanggal 27 yang kedua
–pemujamu


