Uncategorized

Playing Victim

Ketika kita disakiti, dikecewakan, atau dicurangi, merasa sedih dan sakit hati itu wajar. Nangis? Manusiawi banget. Tapi terus menerus larut dalam kesedihan yang itu-itu saja, apalagi meratapi diri sendiri dan mencari simpati dari pihak lain yang gak ada hubungannya is a big NO!

Aku pernah diselingkuhi. Lebih dari sekali malah. Bahkan pernah diselingkuhi selama setahun dan gak ketahuan sama sekali. Pas akhirnya tahu gimana? Sakit hati, banget.

Ditikung? Pernah juga kog. Gak main-main ditikungnya sama sahabat sendiri. Sahabat yang tiap aku berantem sama pacar (kala itu) selalu curhatnya ke dia. Eh malah dia yang ngambil pacar saya. Sakitnya dobel gaess, diselingkuhi pacar, dikhianati sahabat.

Aku dulu juga berlebihan kaya kamu kog, deq. Nangis meratapi nasib yang begini amat. Menjerit sama Tuhan kenapa cerita cintaku semengenaskan ini. Dengerin lagu patah hati sepanjang hari. Nangis di mobil sepanjang perjalanan pulang kerja, diiringi lagu galau tentunya. Ah payah pokoknya.

Terkadang kita terlalu fokus dengan luka hati kita, sampai gak menyadari maksud Tuhan mengizinkan luka itu datang. Kita terlalu sibuk playing victim, selalu merasa menjadi korban, dan nyari simpati orang lain, minta dikasihani. Padahal momen terluka adalah saat yang tepat untuk kita evaluasi diri sendiri. Bukan hanya mikir dia jahat, dia ninggalin aku gitu aja, padahal aku sayang banget loh sama dia, aku kurang apa sih kog dia lebih milih cewe itu?

Aku percaya tidak ada manusia 100% jahat di dunia ini, begitu pun sebaliknya. Jadi kalau mantan pacarmu itu ninggalin kamu, bukan berarti juga dia 100% orang jahat, mungkin dia memang gak PAS buat kamu. Mungkin bukan kamu yang bisa membuatnya menjadi versi terbaik dari dirinya. Dan mungkin dengan ditinggal kamu bisa ketemu “dia” yang sesungguhnya bisa menjadi pasangan PAS buatmu. Ini bukan teori deq, kakakmu ini mengalami sendiri. Mantan 9 tahunku gak 100% jahat (nyebelin iya), mungkin ada bagianku yang membuatnya jadi tidak setia. Mungkin ada kekuranganku yang membuat dia tidak nyaman di sisiku dan pada akhirnya mencurangiku. Ambil hikmah positifnya saja, jangan dilihat sedihnya terus nanti kamu jadi manusia gak bersyukur loh.

Jangan sampai kita terlalu sibuk menghakimi orang lain jahat seolah-olah kita gak pernah jahat sama orang lain. Jangan sampai kita sibuk menjelekkan orang yang kita benci sampai lupa memperbaiki diri. Jangan sampai kamu hanya berkutat dengan lukamu, mencari koalisi untuk menyerang orang yang kamu anggap musuh, padahal “musuhmu” lagi sibuk berkarya dan berbahagia.


Don’t disgrace yourself, deq.

ANG

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *