Friends

Musuh Karena Cinta, Sahabat Karena Dewasa

Ada pertemuan yang manis, ada yang biasa saja, dan ada juga yang.. ya ampun, kalau bisa dihapus dari timeline hidup mungkin sudah aku klik delete forever. Perkenalanku dengan Lia masuk kategori yang terakhir. Bukan sekedar ackward, tapi benar-benar sebuah tragedi yang dibungkus drama. Kami bertemu bukan sebagai calon sahabat, tapi sebagai dua perempuan muda yang sama-sama mencintai lelaki yang kalau dipikir sekarang, salah dari awal sampe akhir. Kenaifan masa muda membuat segalanya terasa hitam putih. Ada aku, ada dia, ada rasa cemburu, dan ada ego yang sama-sama keras. Kami pernah jadi musuh, hanya karena sama-sama salah memilih orang untuk dicintai.

Kala itu, kami saling membenci dengan penuh semangat masa muda. Bukan tipe benci yang diam-diam, tapi yang aktif dan produktif. Menyimpan sakit hati, saling menyakiti, dan merasa paling benar. Kalau diingat sekarang, rasanya ingin ketawa sendiri sambil geleng-geleng kepala. Kok bisa ya, dua perempuan pintar, terjebak di lubang yang sama, lalu saling menyalahkan? Tapi begitulah masa muda, emosinya lebih cepat daripada logika, dan gengsinya lebih tebal dari rasa bersalah.

Sekian tahun berlalu. Waktu, seperti biasa, melakukan tugasnya dengan sangat baik. Kami tumbuh. Kami hidup. Kami jatuh bangun di jalur masing-masing. Dan entah bagaimana, hubungan kami tidak berakhir seperti cerita sinetron. Tidak lagi ada dendam berkepanjangan, tidak ada kompetisi diam-diam. Yang ada justru pertemuan ulang dua perempuan dewasa yang sudah capek marah. Kami saling meminta maaf, saling memaafkan, lalu ajaibnya, bisa menertawakan kebodohan masa lalu. Dari yang dulu ribut soal cinta segitiga, kini obrolan kami pindah kelas: keluarga, parenting, luka-luka hidup, sampai mimpi menyiapkan masa depan anak-anak. Dari musuh karena cinta, jadi sahabat karena sama-sama belajar dewasa. Janggal? Banget. Tapi ini nyata.

Dan Christine Amalia tetaplah Lia yang aku kenal sekarang: perempuan lincah kelebihan energi, galak di luar, tapi penuh perhatian di dalam. Perempuan yang pernah kusakiti, justru jadi orang pertama yang kucari saat aku (gantian) disakiti perempuan lain. Komedi hidup memang suka keterlaluan. Terima kasih sudah jadi pelita di mana pun kamu berada, Li. Tetaplah jadi cahaya, jadi “sirup manis” yang siap mengobati luka-luka orang yang datang sambil minta kamu #pukpuk. Aku bersyukur pada Tuhan, terlepas dari bagaimana kita saling mengenal, aku bisa menyebutmu sahabat. Sampai kita tua nanti, sampai obrolan absurd memilih menantu terbaik untuk anak-anak kita.

Sehat selalu, Mommy Dira. Karena seperti ayat alkitab yang sama-sama kita hafal.

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

2025 boleh berat dan penuh gebrakan, tapi justru karena itu persahabatan kita makin erat. Mari sambut bersama 2026 dengan harapan baik dan tawa yang lebih banyak.

ps. kutunggu makan babi kuah bareng di Pasar Gede

MGAA

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *