Mari mengawali Desember dengan ritual menunggumu pulang.
Ternyata jarak tidak semenakutkan yang kupikirkan. Walaupun kita berjauhan, aku lebih sering kemana-mana sendirian, tapi aku tidak pernah merasa benar-benar sendirian, ada kamu, di hatiku, di hapeku, di setiap senyumanku, di semua kerianganku.
Terima kasih jarak yang justru selalu membuatku merindukan kamu.
Ritual menunggumu pulang menjadi ritual menyenangkan setiap bulan. Dan kali ini kamu mengikuti kemauanku naik armadaku, bukan armada kesukaanmu. Ah.. kapan kita naik bis mas?
Kita memang lebih sering berselisih daripada berkasih. Aku tahu, kamu mengasihiku dengan caramu, dengan nasihat-nasihat galakmu itu, yang justru membuatku semakin rindu.
Ah, ini baru hari Rabu… dering teleponmu, mendengar suaramu, justru membuatku semakin menahan rindu. Aku rindu senyumanmu mas, bibirmu yang seperti gerimis bercampur gula itu. Aku rindu pelukan dan toyoranmu.
Cepatlah waktu berlalu supaya kita segera bertemu.
Denganmu, langitku berbintang.
Denganmu, sempurna kurasa.
ANG


