Curhat

Menghakimi

Kalo udah besar mau jadi apa? Saya mau jadi dokter, insinyur, guru, seperti itulah kira-kira jawaban saya dan teman-teman saat masih duduk di bangku TK. Tapi, akhir-akhir ini saya mulai membayangkan kalo semua anak yang ditanyai apa cita-citanya akan menjawab: “saya ingin jadi hakim.”

Semakin hari semakin banyak saya menemui orang-orang yang hobi menjadi hakim, suka menghakimi. Bahkan, mungkin tanpa saya sadari saya juga pernah sok jadi hakim. Jadi hakim memang nikmat, bisa tuduh sana sini, kasih hukuman, selesai.

Manusia zaman sekarang lebih suka membicarakan keburukan orang lain daripada prestasinya. Terbukti dengan menjamurnya acara gosip yang persentase berita buruknya lebih banyak daripada liputan prestasi artisnya. Kalo ada publik figur yang melakukan kesalahan, atau sedang mengalami hal buruk, bisa dipastikan liputan itu akan diulang-ulang setiap hari, pagi, siang, sore malam dengan narasi yang disangatkan. Lalu orang-orang berlomba menonton, menanggapi, bahkan cenderung menghakimi.

Seperti kejadian minggu kemaren, ketika sahabat saya harus menangis di gereja dan gak jadi latihan koor. Karena apa? Karena dia dihakimi. Ibu-ibu gereja yang (you know lah) selalu hobi protes, bahkan dengan kalimat pedas, dengan terang-terangan menyalahkan sahabat saya yang dianggap tidak becus mengorganisir acara natal anak yang baru saja berlangsung siangnya. Tentunya sahabat saya yang sudah melakukan setiap job desknya dengan sepenuh hati, sepenuh tenaga, dan merasa sangat kecewa ketika para ibu monster itu dengan sadisnya menghakimi dia. Ibu-ibu itu apa gak pernah muda? Gak pernah jadi guru sekolah minggu? Gak tau betapa susah payahnya usaha yang dilakukan untuk mengadakan Natal yang bisa membahagiakan semuanya? Tentunya tidak mudah. Jadi, jangan asal menghakimi kalo belum tahu rasanya.

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *