Halo Ibu Win di Jakarta….
Sudah lama aku tidak mendengar suaramu ketika menelepon anakmu. Bukannya aku tidak merasakan rindu padamu, sungguh! Hanya saja kini aku menjaga banyak hati dengan tidak menemuimu. Termasuk menjaga hati anakmu yang (mungkin) kini membenci aku dan menjaga hatiku sendiri. Ya, aku mencegah diriku semakin merasa sayang padamu agar hatiku tidak pilu semakin dalam. Tapi percayalah Bu, tidak setitik pun ada rasa benciku padamu, perempuan hebat.
Sejak beberapa waktu lalu aku semakin dekat mengenalmu dari cerita anakmu, perempuan hebat yang melahirkan seseorang yang aku cintai dengan segenap hatiku. Dari kisahmulah aku tahu dan mengerti tentang berbagai kisah pilu. Bagaimana sakitnya dikhianati dan ditinggalkan. Ketika kumendengarkan kisah hidupmu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk (berusaha) tidak pernah menyakiti anakmu. Pun menyakitimu.
Ibu Win, anakmu sangat sayang padamu. Kau pun pasti tahu itu. Dari sikapnya hingga kedekatan kalian membuktikan segalanya. Dan apakah kau tahu Bu, anakmu selalu mencari sosok pendamping seperti dirimu. Sama. Hingga ia (mungkin) tanpa sadar seringkali membandingkan aku dengan dirimu yang begitu hebatnya. Dan aku sejujurnya tidak sanggup menjadi dirimu. Karena aku bukan dirimu dan aku punya kehebatanku sendiri.
Tapi aku mengerti. Aku mungkin tidak memenuhi standarnya, aku bisa memahaminya.
Ibu Win, ingin rasanya aku bertemu denganmu. Menceritakan apa yang aku rasakan padamu. Pun hal pilu yang kini kurasa. Tapi rasa takutku mengalahkan segalanya, rasa takut menatap matamu, rasa takut merasakan sesak di dadaku menahan rindu yang kupaksa mati. Rasa takut menerima rasa tidak suka padaku yang berusaha menemuimu.
Aku bisa memahami. Kini aku, dia, dan juga dirimu memiliki jalannya sendiri. Doaku untukmu, pun anakmu tidak lagi sekeras dulu Ibu. Hanya karena aku yakin, Tuhan pasti menjaga kalian tanpa kupinta. Dan kini Tuhan menjaga kalian bukan lagi untukku.
Ibu Win, aku hanya memohon padamu, jangan pernah membenci aku. Maafkan atas hal buruk yang mungkin pernah aku lakukan tanpa sadar dan menyakitimu, pun anak kesayanganmu. Izinkan aku untuk tetap menyayangimu meski dalam diam. Izinkan aku untuk tetap menyimpan rasa rindu yang kurahasiakan. Aku berjanji, berusaha tidak lagi mencintai anakmu seperti yang kini dia inginkan. Tidak lagi merindukannya seperti yang ia paksakan. Tapi jangan paksa aku melupakan kebaikan hati kalian padaku selama ini.
Terima kasih Ibu Win, sudah sudi menerimaku mendampingi hati anakmu meski sejenak. Terima kasih sudah mengizinkan aku memiliki harapan dan merancang masa depan bersama anakmu. Terima kasih sudah membuatku memiliki impian memiliki ibu mertua hebat sepertimu. Terima kasih atas segalanya.
Aku sangat mencintaimu dan mungkin perlu kau tahu, aku sangat mencintai anakmu.
Salam sayang penuh cinta.
Dari aku, mantan calon menantumu.
IBW
3>


