Hebat!
Kamu menang banyak Hon…
Lagi-lagi kamu yang mengalirkan energi dari hati dan otakku beriring-iringan. Energi yang menuju ujung jemari membuat ungkapan perasaan menjadi barisan kalimat pernyataan: surat cinta. Diberi makan apa sih kamu waktu kecil sama ibumu, kog bisa hebat begitu? Rasanya begini ya, padamu, seperti kena guna-guna. Walaupun aku tahu kenyataannya tidak begitu, karena bagaimanapun kau mantrai aku, “dukun” Yang Mahaagung itu kupercayai lebih hebat dari dukunmu.
Dia Yang Mahahebat itu yang mempertemukan garis hidup kita di persimpangan jalan. Aku percaya, tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan. Nah, itu yang aku pertanyakan. Untuk apa rasa sehebat ini Dia ciptakan? Bila setiap orang ditiupkan nafas kehidupan untuk satu tujuan, bagaimana dengan kita? Dua anak manusia yang saling jatuh hati dipersatukan atas nama cinta. Untuk apa?
Aku mengagumimu untuk setiap karya yang kau cipta. Aku menghormati tiap sumbangsihmu pada sesama. Aku memuja buah pikiranmu yang tidak biasa. Aku terpesona tubuhmu yang menggoda. Tapi jangan tanyakan alasanku jatuh cinta, aku bingung menjawabnya.
Jadi sayangku, kalau boleh sedikit kutarik kesimpulan malam ini. Yang kutahu, sejak bertemu kamu, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik. Dan aku selalu berdoa kepada Tuhan agar kamu diciptakan untuk bersanding denganku sampai nafas yang terakhir terhembus dari mulutku. Aku bersyukur Dia mempertemukan kita dan mengizinkanku menikmati bahagia seindah ini.
–yang menjagamu sepenuh hati


