Curhat

Keadilan di Mata Tuhan

Sumber Alkitab: Matius 20: 1-16

Saya paling seneng dari sejak saya ABG dulu, setiap PA (Pemahaman Alkitab)  atau Kebaktian Pemuda Remaja kalo yang bawain firman Mba Upik. Entah kenapa Mba Upik itu firmannya selalu nyantol di kepala saya dan bikin saya ngangguk2 pas mendengarkan. Ada kan yaa orang yang pinter secara rohani, tapi gak pinter dalam menyampaikan, sehingga kerasa kurang menarik? Tapi Mba Upik ini emang bakat jadi pengajar kali yaaa… Tiap dia udah di depan, aura gurunya itu muncul, bikin semua terpaku mendengarkan. Gaya bicaranya bisa santai, sama sekali kaya gak mikir, gak dibuat-buat, bakat alamiah banget, hehehehe.. Itu yang pengen saya bisa dari Mba Upik.

FYI, Mba Upik ini udah lama absen dari pelayanan gereja karena cuti hamil dan melahirkan si ZEFA. Jadinya kita udah lama banget gak dengerin firman Tuhan dari Mba Upik. Nah, saat kemaren kebaktian yang bawain firman Mba Upik rasanya seperti mengobati kerinduan, ceileee… Dan hebatnya, walopun udah lama gak bawain firman, Mba Upik sama sekali gak kagok, tetep aja keren =D

Oke, rasanya cukup memuji Mba Upik, nanti dia makin GR dah, hahahaha…

Firman yang dibawain mba Upik kali ini tentang “ADIL”. Apa itu adil, dan seperti apa itu adil?

Seringkali kita sebagai manusia selalu merasa gak puas, selalu saja berdoa kepada Tuhan untuk meminta. Saya sendiri merasa, sepertinya setiap saya berdoa saya lebih banyak memintanya daripada bersyukur kepada Tuhan. Dan, walaupun Tuhan sudah memberkati kita begitu luar biasa, masih saja kita merasa kurang dan berkata “Ah, Tuhan gak adil!”

Contoh sederhana yang dikasih Mba Upik kemaren.
Misalnya Seorang pelajar yang sudah mati-matian belajar. Di sekolah rajin, setelah itu masih les pejaran tambahan, pulang les langsung ngerjain PR dan belajar setiap hari sampe malem, tapi tetap saja dia gak bisa jadi murid berprestasi di kelasnya. Tapi sebaliknya, ada pelajar yang kerjaannya cuma maen PS melulu, gak pernah belajar tapi bisa ranking. Nah.. di situlah kita sebagai manusia merasa Tuhan itu kog adil ya???

Saya sendiri juga pernah berpikir tentang ketidakadilan. Saya pernah bertanya pada Bapak Andi Wijaya, beliau adalah pembicara favorit saya (selain Mba Upik, saya tetap fans no. 1 Mba Upik). Kenapa ada orang yang baik hati, hidupnya selalu melayani, tetapi rasanya dia selalu mendapat sandungan dalam hidupnya, entah masalah ekonomi, dalam sekolah, atau bahkan dalam percintaan. Tapi kenapa ada orang yang jahat, menghalalkan segala cara dalam hidupnya, mengorbankan hak orang lain, tapi dia malah kaya raya, malah berjaya? Lalu Pak Andi menyuruh saya membaca kisah Ayub, yang dengan menyakitkan diubah dari kaya raya menjadi sangat miskin, tidak punya apa2, bahkan kehilangan seluruh keluarganya pula. Tuhan bukannya tidak adil, Tuhan mengizinkan kepahitan terjadi dalam hidup kita tentu ada tujuannya. Tujuannya adalah untuk menguji iman kita, seberapa kuatkah iman kita, apakah bisa sekuat Ayub???

Mba Upik menggambarkan “keadilan Tuhan” lewat para pekerja upahan di kebun anggur (Baca ayat di atas). Di situ diceritakan bahwa si Tuan pemilik kebun anggur memberikan upah 1 dinar pada seluruh pekerja upahan, padahal jam kerja masing-masing pekerja berbeda. Tentu saja para pekerja protes karena merasa tidak adil. Tapi apa jawaban sang Tuan pemilik kebun anggur?

(15) Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?


Ya, Tuan pemilik kebun anggur itu adalah Tuhan Yesus dan kita digambarkan sebagai para pekerja upahan. Semua yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan, dan ketika Tuhan membagi-bagikannya, bagaimanapun aturannya, itu mutlak hak Tuhan. Keadilan di mata Tuhan tentunya tidak sama dengan keadilan di mata manusia. Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan, Tuhan tahu seberapa porsi yang harus kita dapatkan. Jika kita diberi kecerdasan luar biasa dan selalu ranking kelas, belum tentu kita bisa mengelola rasa bangga yang kita dapatkan. Mungkin kita akan terjebak dalam kesombongan dan rasa cepat puas, sehingga malah jadi malas belajar. Jika kita diberi kekayaan yang melimpah saat ini, Tuhan tahu kita belum bisa mengelolanya dengan baik.


So, jangan pernah merasa Tuhan itu tidak adil, jangan merasa iri dengan apa yang didapatkan orang lain. Karena Tuhan itu MAHA ADIL. Dia yang paling tahu yang terbaik untuk kita.


Lalu apa kuncinya? Bersyukur. Kita harus senantiasa bersyukur atas semua yang sudah Tuhan berikan dalam hidup kita. Jika kita bersyukur, tentu saja berkat itu akan lebih terasa dalam hidup kita. Jangan sampai kita bersungut-sungut seperti para pekerja upahan di kebun anggur.


Salam.
Ang_

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *