Menjelang 2026, hampir semua orang sibuk menuliskan resolusi. Target hidup, rencana karier, mimpi yang ingin dikejar, dan daftar panjang hal-hal yang ingin dicapai. Dulu aku juga seperti itu. Aku merasa harus selalu punya rencana supaya hidup terasa aman dan terkendali. Tapi tahun ini berbeda. Aku menyadari satu hal yang cukup besar dalam diriku: aku tidak punya rencana apa pun untuk 2026 ini. Bukan karena aku menyerah pada hidup, tapi karena aku akhirnya mengerti bahwa tidak semua hal harus aku pegang kendalinya. Dan anehnya, justru di situ aku merasa lebih tenang. Hidup Tanpa Rencana, Tapi Tidak Tanpa Arah Tidak punya rencana bukan berarti hidupku tanpa arah. Aku tetap ingin hidup sebaik-baiknya.…
-
-
Tiga Hari Menuju 2026: Persiapkan Hatimu
Ada fase sebelum tahun baru yang selalu terasa lebih sunyi, tapi juga lebih jujur. Tiga hari terakhir bukan cuma soal menghitung mundur pergantian angka, tapi tentang hati yang mulai lelah membawa terlalu banyak cerita. Di titik ini, aku merasa manusia memang butuh pause. Bukan untuk menyerah, tapi untuk membereskan. Karena sejauh apa pun kita melangkah ke 2026, kalau isi hati masih penuh sisa 2025, langkah itu akan selalu terasa berat. Maka sebelum resolusi ditulis dan mimpi baru disusun, ada lima hal yang menurutku perlu dibereskan pelan-pelan. 1. Memaafkan: Melepaskan Beban yang Diam-Diam Mengikat Memaafkan adalah pekerjaan batin yang sering kali tidak kelihatan hasilnya secara instan. Kita terbiasa mengira memaafkan berarti…
-
Aku Jarang Bicara Politik, Tapi Kali Ini Aku Berisik
Kalau kamu udah lama kenal aku, atau ngikutin blog & media sosialku, pasti tau banget kalau aku tuh jarang banget ngomongin politik, cenderung apatis malah sama pemerintah. Media sosial buatku mostly tempat buat curhat receh, life update ringan, atau sekadar berbagi hal-hal fun yang kualami sehari-hari. Karena jujur, aku merasa politik bukan ekspertiseku. Kadang juga capek lihat timeline yang isinya debat kusir soal siapa yang benar, siapa yang salah. Tapi, sejak malam demo 28 Agustus kemarin, hatiku rasanya terlalu marah untuk tetap diam. Seorang anak yang sama sekali gak bersalah harus kehilangan nyawanya sia-sia, dengan cara yang gak manusiawi. Dan ini bukan sekadar headline berita yang bisa kita skip lalu…
-
The Love Code: Talk it Out
Pernah gak sih kesel sama kebiasaan pasangan yang menurutmu sepele tapi bikin emosi? Nah, aku pernah ngalamin hal yang sama. Si Om aka suamiku tuh dulu punya kebiasaan yang bikin aku geregetan, yaitu selalu ninggalin aku duluan pas kita lagi makan di luar. Awalnya, aku mikir dia tuh gak sabaran banget atau bahkan cuek sama aku. Aku yang anak Solo can’t relate sama kebiasaan kemrungsung si pria ibukota ini, huft. “Ih, kok bisa sih ninggalin aku gitu aja?” gumamku dalam hati. Tapi, siapa sangka, di balik sikapnya yang nyebelin itu, ternyata ada alasan yang bikin aku tersentuh banget. Kurang Komunikasi Bikin Mudah berasumsi Suatu hari di awal-awal pernikahan, kami lagi…
-
Kenapa Sih Kita Benci? Mari Intropeksi!
Pernah gak sih kamu merasa ada orang yang selalu salah di matamu? Padahal dia gak gimana-gimana , tapi apapun yang dia lakukan, kamu tetap saja benci dan gak suka. Ternyata, ini bukan cuma perasaanmu saja, lho. Seringkali kita mengkritik seseorang bukan karena masalahnya, tapi karena memang kita gak suka sama orangnya. Ya kan? Kenapa Kita Membenci? Sebenarnya, apa sih yang membuat kita jadi gampang benci? Mungkin beberapa alasan ini bisa jadi jawabannya: Bahaya Membenci Kalau dibiarkan, perasaan benci buta ini bisa merusak diri kita sendiri, lho. Hati dan pikiran kita jadi gak tenang, hubungan dengan orang lain jadi renggang, dan kita jadi sulit melihat hal-hal positif dalam hidup. Ketika kita…
-
Rain-Kissed: A Story of Letting Go
For nine years, my trusty umbrella was my constant companion. It sheltered me from the rain, provided comfort during thunderstorms, and was always there when I needed it. But as life often does, it threw a curveball. My beloved umbrella started to fray, its handle cracked, and its canopy began to leak. One particularly stormy day, it finally met its demise. The wind ripped it apart, leaving me soaked to the bone. It was a heartbreaking moment, but also a liberating one. I realized that holding onto something that was clearly broken wasn’t doing me any good. Letting go was like shedding a weight that had been holding me down.…
-
Go Ahead, Underestimate Me
Selamat siang, Sudah lama tidak menulis dengan gaya bahasa lugas. Yaaa, apa yang mau aku omongin siang ini tidak melulu bahasa puitis syahdu, kadang hidup keras bro, harus dihadapi dengan semangat dan kerja cerdas. Beberapa hari belakangan statusku sebagai pendekar mulai dipertanyakan orang-orang terdekat. Aku tiba-tiba melemah kaya handphone yang baterainya tinggal 2% warnanya merah. Aku gampang menyerah, menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak bisa melakukan apa-apa.. Ah muncul lagi sisi payahku ini. Anyway, kalian percaya gak sih kalo semua orang punya alter ego. Jadi gini, apa yang kelihatan di depan banyak orang itu belum tentu karakter orang itu sepenuhnya, ada satu bagian di mana orang lain tidak perlu sampai…
-
4. Untuk Cinta yang Belum Sempat Tersampaikan
Facebook.Menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh. Kita pernah dipisahkan jarak. Memaksa kita menjauh, larut dengan kesibukan masing-masing, melupakan cinta yang pernah tumbuh. Cinta yang belum sempat tersampaikan. Dan teknologi kini mempertemukan kita kembali, apakah cinta itu masih tersisa? Sudah 9 tahun sejak saat itu. Waktu telah mengubah segalanya. Statusmu, statusku, cinta, dan usia kita. Kukira kamu sudah lupa. Ternyata aku salah. Pertemuan kita di warung fotokopi, gaya bercandamu, yang langsung menimbulkan rasa suka di hatiku. Ah… dulu kita pernah sedekat itu. Kenapa kita selalu terlambat bertemu? Terima kasih untuk setiap nostalgia manis yang kembali kamu bangkitkan. Membuatku tersipu. Tomang – Cikarang. Bukan jarak yang dekat, perjalanan melelahkan di akhir pekan…
-
3. Untuk Pelangi di Bulan Januari
Datang akan pergi lewat kan berlalu ada kan tiada bertemu akan berpisah Awal kan berakhir terbit kan tenggelam pasang akan surut bertemu akan berpisah Hei, sampai jumpa di lain hari untuk kita bertemu lagi kurelakan dirimu pergi Meskipun kutak siap untuk merindu kutak siap tanpa dirimu kuharap terbaik untukmu Sampai Jumpa – Endank Soekamti ————————————————————————————————————————– Selamat hari Rabu yang ke-33 Hai kamu yang sudah tidak bisa kurengkuh seperti dulu. Apa kabar? Lima hari yang lalu akhirnya kita sempat bertemu. Aku sudah cukup bahagia bisa melihatmu dan memastikan kamu baik-baik saja. Taukah kamu? Aku begitu rindu senyuman dan sorot mata cokelat itu. Apakah kamu juga merasakan yang sama? Atau hidupmu sekarang…
-
1. Untuk Sarju yang Selalu Membuatku Merasa Rindu
Selamat pagi Sarjuku… Kalimat itu yang selalu kau tuliskan setiap pagi di BBM. Kalimat yang selalu aku tunggu, membuatku tersenyum dan semakin merindukanmu. Ju, aku tidak pernah membayangkan akan bertemu dan mengenalmu di perjalanan hidupku. Semudah ini kita dekat dan bersahabat, ah.. lebih.. kita bersaudara, aku anak mamahmu no tujuh. Persamaan kisah hidup kita mungkin yang membuat kita bisa saling mengisi hingga hari ini. Seperti katamu, kita bukan lagi sebelas dua belas, kita memang benar-benar senasib, kembar identik. Dan baru kali ini aku menemukan sahabat lelaki yang bisa benar-benar mengerti, yang membuatku tidak malu, tidak sungkan, tidak takut untuk mengisahkan apapun yang kualami, yang kurasakan. Kamu selalu bisa mengubah identitas…

















