Teruntuk kamu,
Sebenarnya, aku hanya ingin berkata aku mencintaimu. Terlalu banyak rasa yang akhirnya kurangkai dalam satu untaian aksara, cinta. Semakin lama semakin dalam, semakin pekat rasa itu menempel dalam angan hingga hati yang pernah tersekat ini kembali mencuat. Kau sudah menghipnotisku dengan senyummu, kau tidurkan aku dalam baring indahmu. Aku mengikuti maumu, bukan sebagai pembantu atau pesuruhmu. Aku menjadi pengikut bahagiamu.
Satu penuh jiwaku sudah mengenaimu. Sudah melekat tepat di dasar alam bawah sadarku. Lelap maupun terjaga, kau adalah tujuanku, mimpi dan nyataku. Jangan tanya lagi seberapa dalam aku memendammu. Bukan untuk mengubur dan melupakanmu, aku hanya ingin memilikimu untukku sendiri, tidak perlu orang lain tahu, biar kunikmati nanti sendiri.
Tidak pula untuk melupakanmu, sebab aku lupa bagaimana cara melupakanmu. Haruskah aku mencuci otakku? Haruskah kucangkok jantungku? Haruskah diganti hatiku? Harus bagaimana lagi? Aku benar-benar lupa, bahkan mungkin aku memang tak tahu bagaimana cara melupakanmu. Bodoh ya, aku memang bodoh dalam urusan melupakanmu. Tapi jangan pernah sekalipun ajari aku tentang hal melupakanmu. Akan ada penolakan besar-besaran.
Inikah yang namanya jatuh cinta? mungkin demikian. Sebab aku pernah merasa jatuh saat di hadapmu. Jatuh bukan karena terantuk batu, namun jatuh karena aku tiba-tiba merunduk pada hatimu. Mengaduh perlahan meminta belas kasihmu, bukan belas kasihanmu. Berharap kau menolong hati yang kesakitan sendiri.
Aku mencintaimu, hingga aku lupa cara melupakanmu.


