Uncategorized

Orang baik itu seperti apa?

Saya menjalani TK dan SD di sekolah swasta yang sangat ketat aturan keagamaannya. Yang saya ingat sekali, saya pernah dimarahi Kepala Sekolah karena saat berpapasan dengan beliau tidak bisa melafalkan ayat hafalan Yohanes 3:16. Saya takut dan malu saat itu karena dianggap punya iman tipis karena tidak punya ayat hafalan. Anak Tuhan itu yang punya ayat hafalan.

Jika anak-anak lain mencintai hari Minggu karena bisa bangun siang, saya tidak. Buat saya semua hari sama saja karena setiap hari saya tetap masuk jam 7 pagi. Hari minggu bukan saatnya bangun siang trus nonton Doraemon. Jam setengah 7 sudah siap berangkat Sekolah Minggu berjalan kaki bersama teman-teman.

Di Sekolah Minggu diajarkan lagi pentingnya ayat hafalan, baca Alkitab setiap hari dan menjalankannya di kehidupan sehari-hari. Oh ya, juga rajin berdoa, anak Tuhan harus rajin berdoa.

Singkatnya, masa kecil saya dipenuhi dengan ajaran yang sangat agamis dan kehidupan yang manis-manis. Di pikiran saya semua orang itu baik, dan jika saya berbuat baik orang pasti juga baik kepada saya. Kejahatan, kata-kata kotor, kecurangan, setahu saya hanya ada di TV.

Menginjak SMP saya bersekolah di sekolah negeri, begitu pun saat SMA dan kuliah. Dulu saya hanya mengenal lingkungan Kristen, dan di pikiran saya selalu ditanamkan bahwa orang Kristen itu baik karena mereka mengenal Tuhan, umat lain tidak. Saya dilarang nenek saya untuk bergaul dengan anak-anak se-kampung yang kebanyakan non-Kristen. Cuma boleh bermain sama teman sekolah, atau teman sekolah minggu, karena sama-sama Kristen.

Dunia masa kecil saya terlalu sempit. Sehingga saat memasuki SMP saya kaget bertemu dengan berbagai macam orang. Dan ternyata manusia yang bukan Kristen juga baik kepada saya. Bahkan sahabat dekat saya saat di SMP sampai kuliah selalu muslim, bukan Kristen.

Bukan saya hendak membicarakan SARA dengan menyebut agama-agama ini. Menurut saya semua agama baik. Tapi kadang orangnya yang terlalu fanatik dengan agamanya sehingga terkesan menjelekkan agama lainnya. Lalu membuat resah…

Lalu sebenarnya orang baik itu yang seperti apa? Masihkah sama dengan pemikiran masa kecil saya itu? Atau ternyata sudah berubah?

Apakah orang baik itu yang selalu rajin beribadah? Selalu menyebut nama Tuhannya?

Apakah saya yang suka marah dan sudah setahun tidak ke gereja ini dianggap pendosa? Manusia laknat?

Bagaimana kalau ternyata makhluk mulia yang rajin beribadah, bersikap lembut, dan berkata penuh hikmat itu justru mendapatkan pencitraanya dengan cara menjegal orang lain? Bagaimana kalau ternyata seorang pemuka agama yang diurapi itu tega berkata kasar kepada jemaatnya di hadapan orang banyak? Apakah orang-orang berbudi yang suka menjelekkan orang lain dari belakang juga masih bisa disebut orang baik?

Iya, saya menulis ini sebagai wujud kekecewaan saya dengan orang-orang yang bermulut manis itu. Yang menendang saya ke sana ke mari seperti bola. Kemudia tertawa kerasa penuh kemenangan karena sudah mengalahkan lawannya dengan cara kotor.

Lalu siapa yang baik?

Orang yang terang-terangan jahat justru sedikit. Justru orang jahat yang berpura-pura baiklah yang tumbuh subur di negeri ini dan itu mengerikan.

Lalu siapa saya?
Apakah saya orang baik?
Berhasilkah saya jadi anak Tuhan yang manis seperti yang disuruh guru sekolah minggu saya?

Saya tidak terlalu peduli dengan apa kata orang.
Saya mungkin orang jahat. Tapi saya diberkati Tuhan karena dikelilingi orang-orang baik.
Dan 9 malaikat berkaki empat yang membuat saya merasa dicintai luar biasa.
Itu sudah lebih dari cukup.

Terima kasih Mas Jowi, Mba Inong, Mba AE, Mas Hendro, Tante Syl, Tante Louis, kalianlah yang meyakinkan saya bahwa di bumi ini masih ada orang yang benar-benar baik.

Untuk para pendeta yang mengatai kami laknat dan pengacau, terima kasih sudah membuatku tahu bahwa orang-orang palsu ternyata bukan hanya ada di televisi, tapi juga ada di dunia nyata.

Buat teman-teman senasib dan sepenanggungan, Miss2 cantik di DK, mba R, dan semua yang mendukung gadis laknat ini, terima kasih.. Duniaku semakin warna-warni dengan adanya kalian.

Buat yang gak disebut gak usah iri trus nyinyir di twitter, kalian sudah aku block. Hahahaha…

The last, buat H, walau kamu laknat tapi aku tetap cinta.

Salam damai,
Ang.

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *