Uncategorized

Kuberikan Setengah Hatiku, untuk Kenang-kenangan

Awalnya memang menyakitkan, kemudian semakin menyakitkan. Sudah… sekarang, sebelum semakin-semakin menyakitkan lagi, aku kembalikan saja hatimu yang aku bawa kemana-mana. Aku berniat meminta kembali hatiku yang kamu bawa-bawa, tapi setelah aku pikir matang-matang, tidak perlu kamu kembalikan, simpan saja selama kamu suka.

Mungkin sebenarnya kamu yang belum bisa melepaskan, itulah kenapa aku yang melepaskan terlebih dulu. Mungkin kamu berlaku kasar, karena kamu takut aku mengambil paksa. Tenang saja, aku merelakan. Kalau selama ini aku sulit melepaskan, itu karena aku ketakutan. Takut akan sulit menemukan setengah dari hatiku lagi. Sekarang, hatiku memang belum utuh, tapi kamu tahu? Ada yang berbaik hati memberikan perhatian, supaya hatiku berkembang menjadi besar. Menjaga supaya tidak mudah gusar. Kalau begini cara lelaki ini memberi perhatian, aku akan segera melupakan hatiku yang tertinggal di sana. Karena setengahnya lagi sedang berkembang.

Jadi aku minta, jangan kamu sekali-sekali mengancam akan menghancurkan setengah hatiku itu. Tetap aku akan merasakan kesakitan ketika kamu melakukan itu, tapi tubuhku sudah tidak bereaksi berlebihan terhadapnya.

Anggap saja itu sebagai kenang-kenangan, atau pengganti topi yang sudah aku hancurkan, atau sebagai apa saja yang mau kamu sebutkan. Jangan menganggap tidak ada bahagia setelah kamu, buktinya aku akan menemukan bahagia dengan yang baru. Sudah… jangan dikembalikan.

Ssssst… aku pernah mengatakan ini di jejaring sosialku, pasti kamu dan kekasihmu juga telah membacanya, “Bagaimanapun kita bermetamorfosa, bersujud meminta ampub dan berubah menjadi baik, kita akan tetap harus membayar apa-apa saja yang sudah kita buat di belakang. Tidak ada yang gratis bukan?”


Bukan, ini bukan sumpah serapah, sekedar mengingatkan kita berdua untuk menjadi dewasa. Kalaupun sekarang aku berubah, yang selalu kamu sebut-sebut pencitraan, ini perbaikan. Apa yang aku buat di belakang terlalu besar bayarannya. Mungkin kamu tidak, selamat meneruskan pencitraan.

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *