Entah kenapa, 3 kali berturut-turut saya mendapatkan perenungan tentang hidup saling memaafkan. Yang pertama, saat PA (Pemahaman Alkitab) hari Sabtu, 10 September 2011. Di situ saya diperlihatkan kebesaran hati seorang Nelson Mandela yang mampu mengampuni walaupun telah dipenjarakan dan disakiti puluhan tahun.Yang kedua, PA hari Sabtu kemaren, Pak Setyo bilang bahwa kadang orang-orang menjengkelkan itu memang diciptakan supaya iman kita bertumbuh, supaya kita menjadi bijak dan memberikan respon yang tepat, salah satunya dengan MEMAAFKAN. Dan pagi ini saya tugas ngajar sekolah minggu, dan bahan ajarnya tentang pengampunan Esau kepada Yakub. Seperti kita tahu, Esau begitu sakit hati ketika hak kesulungannya direbut secara curang oleh Yakub. Tapi Tuhan telah mengubahkan hati Esau, dan dia pun dengan tulus menerima adiknya kembali.
Saya kurang percaya dengan kebetulan, tapi ini tiga kali berturut-turut saya selalu diingatkan tentang indahnya memaafkan. Saya percaya ini cara Tuhan untuk menegur saya, ya, saya ditegur oleh Tuhan, karena sampai hari ini saya masih menyimpan kepahitan, saya belum bisa MEMAAFKAN.
Dulu, saya mengira meminta maaf itu lebih sulit daripada memaafkan, karena saya merasa orang yang meminta maaf itu posisinya lebih rendah karena dia bersalah. Tapi ketika sekarang saya merasakan sendiri, betapa luar biasa sakitnya ketika disakiti, walaupun posisi kita pihak yang benar pun, tidak akan bisa menyembuhkan luka hati ini seketika.
Bukan berarti saya berkeras dengan sakit hati saya, saya sudah mencoba dan belajar untuk memaafkan, untuk satu hal ini, satu hal yang dengan ajaib merubah seluruh hidup saya, merubah cara pandang, sikap hati, segalanya. Saya masih belum ikhlas dengan kepahitan yang saya terima akibat semua ini, tapi saya harus tetap mencoba memaafkan.
Saya sudah janji, janji kepada Tuhan, janji kepada diri saya sendiri. Saya akan mencoba memaafkan satu hal itu, dan melupakan semua kenangan pahitnya. Saya tidak mau menjadikan hati saya “tempat sampah” yang berisi barang-barang pahit. Saya mau buang itu semua, membersihkan hati saya.
Tuhan saja selalu memaafkan saya. Tuhan mau memberikan saya kesempatan kedua, saya pun harus mau memberikan kesempatan kedua. Walaupun sulit, butuh waktu.
Belajar dari anak-anak sekolah minggu yang saya ajar tadi. Justru saya, sebagai guru sekolah minggu mereka, malah dapat pelajaran banyak dari mereka. Anak-anak sekolah minggu ini bener-bener polos. Ketika mereka saya suruh menyebutkan nama2 teman yang tidak mereka sukai, dengan gamblang mereka menyebutkannya satu persatu. Yang disebut namanya pun tidak tersinggung, malah tersenyum malu-malu. Mereka mencurahkan isi hati mereka dengan jujur, tanpa tendensi, tanpa ada niat memprovokasi, hanya apa yang benar2 mereka rasakan. Dan hebatnya, tanpa saya komandopun, mereka bisa saling memaafkan, bersalaman, berpelukan… Sama sekali tidak ada ketegangan, semua tetap seperti biasanya, tetap ceria, tetap hangat, khas dunia anak2.
Belajar dari anak-anak sekolah mingguku, yang dengan mudahnya memaafkan dengan tulus. Akupun harus begitu.


