Uncategorized

Father, Daughter, and The Love Between

Saya selalu mudah jatuh hati dengan pemandangan seperti ini. Ya, ayah dan anak perempuannya.
Citra ini saya dapat hari Minggu kemarin di sebuah workshop melukis di atas tote bag untuk anak – orang tua yang diadakan Digikidz. Sebenernya juga bukan cuma bapak ini yang nemenin anaknya, ada juga 2 bapak lain yang menemani anak laki-lakinya. Tapi memang saya selalu sentimentil melihat kedekatan seorang anak perempuan dengan papahnya. 
 “Ah, paling karena papahnya ganteng aja sih…” Ahahaha.. iya ganteng sih, tapi saya lebih suka produk Indonesia gaess.. Truly, saya memang iri sama anak perempuan yang disayang dan deket sama papahnya, saya juga pengen.
Bukan berarti saya sama sekali tidak pernah mendapatkan kasih sayang bapak saya. Saya punya beberapa kenangan manis bersama bapak di waktu kecil kog. Salah satu yang saya inget banget waktu saya ikut lomba menyanyi di RRI. Saat itu saya gak berhasil juara 1 karena pas refrain saya melamun dan berhenti menyanyi padahal masih ada 1x refrain yang harus saya nyanyikan (iya, dari kecil saya suka melamun). Ibu saya marah karena saya gak menang, saya takut dan menangis. Bapak dengan tenang membawa saya keluar gedung dan bilang “Gak menang ya gak papa sih dek,” sambil membelikan saya Buavita kotak rasa leci, favorit saya waktu itu. 

Father is her daughter first love. 

It’s true. Saya pun waktu itu. Saya bersyukur punya masa kecil yang menyenangkan bersama bapak. Hampir delapan tahun saya menjadi anak tunggal kesayangan bapak, sampai sesuatu terjadi….
Dan pada akhirnya saya tumbuh ke arah yang berseberangan dengan bapak. Kami semakin jauh. Tidak ada lagi nonton TV bersama sambil tiduran di perut bapak. Tidak ada lagi obrolan dan gurauan di sore hari. Kami menjauh dan tidak saling bicara, bahkan sempat aku membenci dan tidak mau menggunakan nama belakangku. Beruntung aku punya ibu yang walaupun bawel dan galaknya minta ampun tapi punya hati seluas samudera. Ibu yang mengajarkan aku arti memaafkan dan mengasihi tanpa batas, tulus tanpa syarat. 
Semua yang terjadi menjadikan saya tumbuh menjadi perempuan yang selalu haus akan sosok bapak. Ya, saya kangen punya bapak. Kangen disayang bapak, kangen ngobrol dan bercanda sama bapak, kangen dipeluk bapak. Hal ini yang membuat saya mengidolakan para bapak yang dekat dengan anak perempuannya, buat saya mereka keren, bapak yang hebat, dan kadang juga iri kenapa saya gak dapet itu? Ah tapi sudahlah, toh saya masih bisa punya pasangan yang kebapakan, atau yang sudah jadi bapak sekalian? Eaaaak…
Buat semua bapak, sayangi dan lindungi anak perempuanmu sepenuh hati ya, hingga mereka dewasa jangan pas kecil aja, sampai mereka nantinya ada yang menjaga, yaitu suaminya. Kalo mau nakal, inget anak perempuan kalian, kami anak-anak bisa merekam memori yang gak baik lebih lekat daripada memori baik. Trauma-trauma itu bisa kami bawa sampai dewasa dan merusak mental kami. Tolong pahami ya pak. Jangan rusak penilaian kami terhadapmu hanya karena hal konyol, kalian tetap menjadi cinta pertama kami sampai kapanpun.
Anak perempuanmu,
ANG

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *