Uncategorized

Tuan di Ibukota

Pagiku telah disabotase hujan, seolah ia yang memiliki kuasa atas semesta. 

Matahari nampak terpenjara dalam guratan mendung yang membabi buta.
Tuan, apa kabar Jakarta? 
Saya harap Tuan sedang berbahagia di sana. Saya telah menitipkan rindu melalui angin semalam, apakah Tuan merasakannya? Jika iya, berarti angin tidaklah salah tujuan.
Tuan..
Sempatkah Tuan berfikir akan takdir? Seperti misalnya, saya mengasihi Tuan atas dasar takdir. Atau juga misalnya, selama ini Tuan adalah takdir saya? Oh, atau mungkin Tuhan mengirimkan takdir saya melalui Tuan? Dan jika memang takdir, maka di takdir manapun nantinya “kita” pasti akan dipertemukan. Begitu seharusnya bukan? 

Hahaha… konyol. Seharusnya saya tidak perlu melebih-lebihkan, bahkan Tuan saja juga pasti tidak akan memikirkan sejauh itu bukan? Tapi satu hal, sejujurnya saya selalu rindu Tuan, entah angin apa yang membuat saya merasakan ini. Dan karena jarak lah rindu semakin memberontak. Bahkan, rindu seolah dirancang sedemikian rupa supaya bertarung dengan jarak yang terlampau hebat. 
Tuan, mengasihi anda menjadikan saya berkaca pada kesabaran. Semudah dan sesulit apapun asal didasari keikhlasan. Saya percaya Tuhan Maha Kuasanya.
Tuan, ini rindu saya sekali lagi untuk anda. Masih anda. Anda. Dan selalu Anda. 

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *