Kepada semesta,
Semburat langit jingga sore tadi yang aku lihat dengan seksama, perlahan
menghitamkan diri. Entah ia lelah entah ia gundah entah juga ia bosan melihatku
bermurung hati setiap hari.
menghitamkan diri. Entah ia lelah entah ia gundah entah juga ia bosan melihatku
bermurung hati setiap hari.
Sejenak pikiranku melanglang buana ke suatu waktu di mana aku masih
tertawa bahagia tanpa mengenal arti cinta. Dan aku rasa, aku belum paham betul
apa itu arti cinta. Yang aku tahu hanya hatiku terasa penuh sesak oleh
kebahagiaan hanya karena mendapatkan kabar darinya walau hanya melalui pesan
singkat dan akan menangis menahan sesak di dada saat kehilangannya.
tertawa bahagia tanpa mengenal arti cinta. Dan aku rasa, aku belum paham betul
apa itu arti cinta. Yang aku tahu hanya hatiku terasa penuh sesak oleh
kebahagiaan hanya karena mendapatkan kabar darinya walau hanya melalui pesan
singkat dan akan menangis menahan sesak di dada saat kehilangannya.
Hujan turun seketika saat aku masih tertegun memandangi jingga yang
telah menutup dirinya. Tanpa mereka kau juga tak berarti apa-apa. Sama
sepertiku tanpanya, yang kau tahu siapa. Detak jantungku bukan suatu melodi
yang layak didengar jika tak ada dia. Dan hembusan nafasku hanyalah udara
dingin yang keluar dari mulutku tanpa berarti apa-apa.
telah menutup dirinya. Tanpa mereka kau juga tak berarti apa-apa. Sama
sepertiku tanpanya, yang kau tahu siapa. Detak jantungku bukan suatu melodi
yang layak didengar jika tak ada dia. Dan hembusan nafasku hanyalah udara
dingin yang keluar dari mulutku tanpa berarti apa-apa.
Semesta,
Ketika jemari menemukan genggamannya sendiri, mungkin air yang kau
turunkan tak akan sedingin ini. Dan ketika kau mulai menggelapkan hari, udara
malam tak akan semenusuk ini.
turunkan tak akan sedingin ini. Dan ketika kau mulai menggelapkan hari, udara
malam tak akan semenusuk ini.
Entah apa yang aku tulis ini. Mengadu padamu setiap waktu tak berarti
apa-apa. Bahkan ketika aku menitipkan rinduku padamu agar ia merasa, aku tak
yakin kau menyampaikannya. Namun tetap saja, aku berdoa agar suatu hari aku dan
dia-yang kau tahu siapa-berdiri berhadapan tanpa bicara, tapi sama-sama bisa
merasakan cinta.
apa-apa. Bahkan ketika aku menitipkan rinduku padamu agar ia merasa, aku tak
yakin kau menyampaikannya. Namun tetap saja, aku berdoa agar suatu hari aku dan
dia-yang kau tahu siapa-berdiri berhadapan tanpa bicara, tapi sama-sama bisa
merasakan cinta.
Iya. Aku menuliskannya-yang entah siapa. Bukan seperti biasanya, aku
menuliskan seseorang dengan jelas asal-usulnya. Kali ini aku menulis tanpa tahu
seperti apa wujudnya. Bukan, ini bukan harapan baru. Harapan-harapanku masih
sama. Dia. Jelas kau tahu siapa. Namun kali ini aku ingin menuliskan seseorang
yang aku sendiri tak tahu dia siapa.
menuliskan seseorang dengan jelas asal-usulnya. Kali ini aku menulis tanpa tahu
seperti apa wujudnya. Bukan, ini bukan harapan baru. Harapan-harapanku masih
sama. Dia. Jelas kau tahu siapa. Namun kali ini aku ingin menuliskan seseorang
yang aku sendiri tak tahu dia siapa.
Semesta,
Dia, yang sudah jelas kau ketahui wajahnya, sudah lelah dan berhenti
untuk melanjutkan mimpi. Dan sudah aku putuskan aku akan berhenti mengucap kata
“kita” hingga kau kembali mempertemukan kami dalam lingkup restu-Nya.
Kata seseorang “ikhlas adalah kunci utama”, dan mari kita buktikan
apa aku bisa atau tidak.
untuk melanjutkan mimpi. Dan sudah aku putuskan aku akan berhenti mengucap kata
“kita” hingga kau kembali mempertemukan kami dalam lingkup restu-Nya.
Kata seseorang “ikhlas adalah kunci utama”, dan mari kita buktikan
apa aku bisa atau tidak.
Semesta, kau tahu aku mencintainya. Dan sampai kapanpun akan seperti
itu. Jadi biarkan aku mencintai dengan caraku-yang sudah aku benahi-dan dia
menerima dan membalas semampunya.
itu. Jadi biarkan aku mencintai dengan caraku-yang sudah aku benahi-dan dia
menerima dan membalas semampunya.


