Uncategorized

Menikah Muda

Saya produk dari pernikahan muda. Saya lahir ketika ibu saya belum genap 21 tahun dan bapak saya baru menginjak 25 tahun. Saya usia 21 tahun? Menikah itu masih jauuuuuh sekali dari target hidup, masih seneng2nya skripsi, masih pengen merasakan berbagai posisi dan bidang pekerjaan, masih ingin traveling kemana-mana, menyenangkan diri sendiri. Mana mampu usia segitu saya berkomitmen dalam sebuah rumah tangga sakral yang dipersatukan Tuhan? Melayani orang lain (suami), mengalahkan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama, meredam ego, ah terlalu sulit. Sungguh saya tak sehebat ibu saya yang mampu melewati masa struglenya menikah muda, mengurus bayi, ditinggal suami yang bekerja di luar kota, tinggal serumah dengan mertua yang disiplinnya udah kaya militer. Ibu saya kuat dan hebat, tapi saat itu dia juga tak ada pilihan lain selain bertahan, karena bagi beliau ini sudah jadi pilihannya, apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak bisa diceraikan manusia. Itu yang ibu dan bapak saya pegang hingga bisa bertahan hingga sekarang walau badai besar pernah datang. Bagi saya, mereka hebat.
Tapi ada berapa persen pasangan menikah muda yang setangguh mereka? Ketika fenomena cerai menjadi hal yang terlalu lumrah kini. Bukankah mencegah lebih baik? 
Menikah beda jauh sama pacaran dek, sungguh. Ketika kita sudah tinggal serumah dan berbagi semuanya berdua, tidak ada lagi pencitraan, tidak ada lagi yang bisa ditutupi, semuanya terbuka, termasuk sifat-sifat asli pasanganmu yang ternyata menjengkelkan atau jorok, seperti kentut sembarangan misalnya. Banyak kebiasaan-kebiasaan baru yang akan merenggut kemerdekaanmu sebagai lajang dulu, paling tidak begitu yang saya rasakan. Ketika dulu saya bangun sesukanya, lipat selimut kalau mau aja, sarapan gampang lah bisa beli sambil berangkat ngantor. Sekarang harus bangun lebih bagi, menyiapkan sarapan untuk pasangan, merapikan tempat tidur (at least lipet selimut lah), belum mikir masak apa hari ini? atau jajan aja di luar? Uang belanja masih berapa? Dan pakaian yang gak habis-habisnya untuk disetrika dan dicuci. Semua ini jadi hal baru buat saya, seru tapi kadang capek dan males juga. Di usia saya yang sudah 30 saja saya masih harus adjustmen loh, bertahap, gak langsung luwes, bayangin yang nikah usia 20 tahun? Aduh usia segitu saya taunya cuma ngampus, nongkrong, nonton bioskop sama karaokean.
Buat perempuan menikah itu menyerahkan dirimu sepenuhnya pada komitmen pernikahan. Duniamu menjadi tidak sama lagi, jauh dari saat kamu masih lajang dulu. Jadi jangan main-main asal menikah saja. Ya kalau lakimu “dewasa” dan mampu membimbingmu dengan baik dan membahagiakanmu? Kalau malah jadi sumber kesedihan di hidupmu? Mau gimana? Cerai? 
Lebih baik salah pilih pacar daripada suami, percayalah. Saya bersyukur loh diselingkuhin pacar saya yang lama itu, saya bersyukur gagal menikah dengan dia, gak kebayang kan kalo saya sudah nikah sama dia trus ternyata dia masih doyan selingkuh? Mending kamu usia 27 jomblo toh?
Jadi dek, jangan terlalu mudah menikah. Jangan naif saat jatuh cinta, gak perlu cinta-cinta banget, sesuai kemampuan dan kebutuhan saja. Gak usah terlalu pamer kemesraan juga di sosial media karena kalo kamu pisah dan gagal akan jauh lebih sakit rasanya. Explore dirimu semaksimal mungkin, masih banyak pria yang akan kamu temui dan carilah yang terbaik dan seimbang untuk dijadikan pendamping seumur hidupmu. Menikah itu tidak seindah yang kamu bayangkan. Menikah artinya kamu sudah mulai mikir cicilan rumah, cicilan mobil, uang belanja bulanan, belum kalo kamu hamil, punya anak, semua ada biayanya, gak gratis, kecuali kalo bapakmu konglomerat.

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *