Aku ingin jadi cinta yang baik untukmu. Tak perlu bermewah-mewah, cukup sederhana saja, seperti mengingat senyummu di tiap kilometer yang kulalui, yang pada akhirnya senyum itu yang mengingatkanku untuk pulang. Atau dengan menyelipkan namamu di tiap senyap sepertiga malam, merangkum doa-doaku.
Aku ingin jadi cinta yang baik untukmu, sekalipun kutahu kau tak dapat kumiliki untuk saat ini. Toh, untuk jadi cinta yang baik tak harus memiliki kan? Kau tahu, apa yang kurasakan ketika kemarahanmu kepadaku yang begitu menderu meneteskan anak-anak airmata dari mataku? Sungguh aku ingin memelukmu, merengkuhmu dengan lenganku, membelai rambutmu yang kasar khas orang timur dengan kasih tak terhinggaku dan lantas berucap, “maafkan aku.”
Apakah aku tega melihatmu seperti itu? Sekalipun yang kulihat itu hanya barisan huruf-huruf penuh amarah di linimasamu. Aku tak tega. Aku hanya ingin lengkung bahagia yang berdiang di gurat bibir, tapi aku bisa apa selain mendoakanmu agar lekas menemukan pelangi untuk digantung kembali di bilah bibir lembutmu.
Aku ingin jadi cinta yang baik untukmu. Melihatmu tersenyum sudah merupakan bahagia untukku. Itu saja, aku tidak peduli dengan kata takdir, kau bergaris denganku atau tidak. Sungguh aku tak peduli. Yang kupedulikan hanyalah kebahagiaanmu, sebabnya aku ingin jadi cinta yang baik untukmu, IBW.
Karena cinta adalah doa, aku mendoakanmu.


