Mungkin tidak semua pecinta anjing familiar dengan istilah “Piometra” atau “Pyometra”, saya pun. Saya tahu istilah ini setelah anjing saya positif mengidap penyakit ini. Miris.
Ya, piometra ialah penyakit infeksi rahim, yang biasanya terjadi pada hewan betina. Ya iyalah.. hewan jantan mana punya rahim?
Jika hewan kesayangan anda mengeluarkan lendir berupa nanah dari kemaluannya, segera periksakan ke dokter, karena itulah gejala penyakit piometra.
Untuk lebih jelasnya tentang penyakit piometra, anda bisa kunjungi: ini!
Kata dokter, piometra biasanya terjadi pada anjing yang sudah tua, usia 4 tahun ke atas, tapi ini tidak pada Chika, anjing saya. Chika belum genap dua tahun, belum pernah hamil, apalagi punya anak, tapi harus mengalami penderitaan seperti ini.
Berawal dari loop yang tidak normal. Pada bulan Agustus, Chika mengalami loop namun terlewatkan begitu saja. Sepengetahuan saya, seharusnya enam bulan kemudian Chika baru loop kembali, seperti anjing-anjing saya yang lain. Tapi tidak pada Chika. Pada bulan November, Chika kembali loop. Saya tanyakan kepada dokter, tapi saat itu dokter tidak menemukan gejala penyakit apapun karena kondisi Chika masih normal, lincah, dan nafsu makan tetap besar.
Sampai akhirnya pada pertengahan Desember 2011. Rumah kami kedatangan anjing betina baru berusia 1,5 bulan. Otomatis perhatian kami tertuju pada si pendatang baru. Seminggu setelah kedatangan si anjing baru, perangai Chika mulai berubah. Chika yang biasanya sangat aktif dan doyan makan, tiba-tiba jadi pemurung dan susah makan. Awalnya saya pikir ini hanya karena kecemburuan sosial, karena emang biasanya Chika ini ratu di rumah kami. Seminggu berlalu, bukan lagi susah makan, Chika mulai mogok makan, badannya mulai mengurus, pucat dan lemas, matanya sampe susah melek.
Akhirnya saya bawa ke dokter langganan Chika dari kecil. Dokter tidak mendiagnosa penyakit apapun, hanya dikasih suplemen makanan, vitamin, dan tetes mata untuk mata Chika yang memerah dan gak mau melek.
Pulang dari dokter, Chika tetap susah makan, dan setelah saya perhatikan dia mulai aktif menjilati kemaluannya sampai bibirnya mengelupas. Saya sempat mengira Chika loop lagi. Tapi setelah saya periksa kemaluannya, ternyata keluar cairan seperti lendir, berwarna kekuningan, berbau anyir, mirip nanah. Saya panik dan mulai browsing di internet tentang gejala klinis seperti yang dialami Chika. Dan ketemulah istilah piometra ini.
Piometra atau infeksi rahim ini bisa disebabkan karena hormon estrogen dan progesteron yang tidak normal sehingga bisa menghasilkan endapan pada rahim yang menyebabkan infeksi, atau juga karena infeksi karena kemaluan yang kurang terjaga kebersihannya, sehingga kuman dan bakteri bisa masuk.
Piometra terdiri dari dua macam. Piometra terbuka yang bisa dideteksi dari keluarnya nanah dari kemaluan. Piometra terbuka masih bisa ditangani dengan pemberian obat yang merangsang pengeluaran nanah keluar melalui vagina sampai rahim kembali bersih. Sedangkan Piometra tertutup lebih sulit dideteksi karena nanah tidak bisa keluar karena tersumbat. Piometra tertutup ini biasanya terdeteksi setelah penyakit sudah parah atau sudah berefek ke organ tubuh penting lainya seperti ginjal. Piometra tertutup tidak bisa lagi diberikan terapi obat, tetapi harus dilakukan operasi pengangkatan rahim. Operasi ini pun harus dilakukan saat anjing dalam kondisi baik, jika masih dalam kondisi lemah justru akan semakin berbahaya bagi keselamatan sang anjing.
Esoknya, Chika kembali saya periksakan ke dokter. Kali ini langsung di USG, dan benar, di rahim Chika terdapat beberapa infeksi yang bernanah. Tapi untungnya infeksinya belum banyak dan belum parah. Masih bisa dengan terapi obat, tanpa perlu operasi pengangkatan rahim. Lega rasanya.
Sekarang Chika masih dalam proses penyembuhan. Sudah lebih ceria dari sebelumnya, mulai mau makan dan bermain dengan penghuni rumah yang lain. USG terakhir, infeksi di rahim Chika sudah mulai berkurang dan menuju proses pemulihan.
Get well soon my dearest Chika.
We love you so much.
Ang_


