Hai Papa,
Rasanya kita sudah lama tidak berbicara senyaman sekarang. Terlalu banyak kenangan yang tidak menyenangkan di masa aku kecil sehingga kenangan indah yang tersisa itu kelihatan kabur dan aku malah kurang bisa mengingat semuanya. Papa tidak pernah memberikan aku kenangan yang cukup menyenangkan. Bahkan kata mama, papa tidak pernah mengganti popokku. Tapi yasudahlah, kita tidak perlu mengingat semua kenangan buruk itu bukan?
Surat ini kutujukan untukmu papa. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa papa sangat beruntung memiliki 2 orang anak yang sekarang sudah besar-besar. Aku yakin kalau papa sedikit menyesal tidak menghabiskan masa kecil kami bersama denganmu. Aku juga bingung, kenapa kami tidak pernah mempertanyakan hal itu karena sepertinya kami memiliki jawaban tersendiri.
Aku berterimakasih untuk setiap hal yang telah papa ajarkan secara tidak sengaja kepada kami. Mungkin papa tidak menyadari beberapa hal ini. Baiklah, aku akan memberitahumu Pa. Ketika papa menyelesaikan masalah dengan kekerasan fisik dan verbal, aku sangat ketakutan. Tanganku basah dan kakiku gemetaran, seolah aku tidak memijak tanah lagi. Dan aku belajar untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, karena aku tahu rasanya bagaimana ketakutan itu.
Ketika papa pergi dengan perempuan lain, papa mengajarkan aku untuk setia terhadap pasanganku. Karena aku tahu rasanya punya papa yang pernah berselingkuh. Papa mengajarkan aku untuk menerima kekurangan pasanganku dan tidak berselingkuh, tidak curang. Karena aku tahu, mama sangat sedih dan kecewa ketika mengetahui papa pergi dengan perempuan lain. Aku tidak mau suami masa depanku merasakan apa yang aku rasakan.
Ketika papa berjuang untuk memenuhi kebutuhan kami, aku belajar untuk berusaha keras sendiri. Papa mengajarkanku untuk bertahan dalam kehidupan yang serba sulit. Papa mengajarkan aku bahwa kehidupan tak selamanya sesuai dengan keinginan kita. Papa mengajarkanku untuk menerima hal sulit dan mengambil nilai positif dari setiap persoalan. Hebat bukan pelajaran hidup yang papa ajarkan?
Beberapa tahun lagi, aku akan berusia tiga puluh tahun. Ya, tiga puluh tahun. Papa pasti berpikir begini: “Bagaimana mungkin gadis kecilku sudah sedewasa ini?” Waktu yang cukup panjang Pa, untuk aku berjuang hidup sendirian tanpa kasih sayang seorang papa yang sebenarnya. Kasih sayang papa yang selalu aku rindukan, yang selalu membuatku iri dan tersiksa ketika melihat anak lain disayang papanya. Yang membuatku hingga detik ini selalu mencari sosok papa.
Pa, sadarkah kalau papa tidak pernah meminta maaf pada kami untuk setiap kenangan burukku di masa kecil? Untuk setiap perbuatanmu yang tidak menyenangkan terhadap mama? Sadarkah papa kalau papa tidak pernah sekalipun mengucapkan kata maaf? Tapi mama selalu mengajarkanku untuk memaafkan kesalahan orang lain, apalagi papaku sendiri. Kami sudah memaafkanmu papa, bahkan sebelum papa menurunkan gengsi untuk meminta maaf. Kami telah memaafkanmu.
Aku tidak punya hak untuk mengguruimu papa. Aku hanya ingin mengingatkanmu dan memberitahumu bahwa aku menyayangimu.


