Beberapa hari ini saya sering bertemu dengan hal-hal yang bertema orang ketiga. Entah itu lagu-lagu baru artis kita, prosa penulis Indonesia terkenal, tweet yang mengharu biru, bahkan talkshow seorang pesulap yang terkenal itu, semua membahas orang ketiga.
Saya tidak tahu apa ini maksudnya. Menurut saya tidak ada yang kebetulan ketika saya harus bertemu terus menerus tentang orang ketiga. Mungkin ini cara Tuhan mengingatkan.
Kenapa sekarang bermunculan lagu-lagu yang menceritakan betapa galaunya seseorang yang mencintai lawan jenis yang sudah berpasangan? Apakah sudah menjadi sebuah fenomena? Atau justru sudah menjadi hal yang biasa?
Selama ini saya salah, saya terlalu menghakimi orang ketiga. Semua orang tentunya punya pilihannya sendiri. Apakah menjadi orang ketiga atau tidak. Semua tentunya merasa tersakiti. Tidak bisa kita asal menyalahkan pihak ketiga. Karena ini urusan vertikal. Siapa yang salah, siapa yang benar, hanya Tuhan yang tahu.
Saya cuma mengingat pepatah dari Dee Lestari.
Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan.


