Curhat

Cinta, Rumah, dan Jalan Pulang

Ini kisah tentang cinta.

Apa arti cinta menurutmu?

Bagi orang yang sedang jatuh cinta, mungkin cinta adalah sesuatu yang indah, harum, dan penuh bunga.

Bagi sebagian orang yang lain, mungkin cinta itu menyakitkan.

Bagiku, cinta adalah rumah. Tempat aku menemukan jalan pulang.

Ini kisah tentang cinta. Cinta yang menemukan jalan pulang, kembali ke rumah.

Aku kehilangan Junod pertengahan tahun lalu. Wait, Junod bukan nama pacarku lho yaa. Junod itu salah satu anggota #TheAnjings. Bagaimana kisahnya sampai dia hilang akan kuceritakan di judul yang lain. Intinya dia menghilang, dan aku sangat kehilangan.

Junod kupelihara dari bayi. Dia terbiasa hidup nyaman di dalam rumah. Makan dan minum rutin setiap hari tanpa repot-repot mencari. Jadi bisa kubayangkan betapa menderitanya dia di luar sana, menghadapi kehidupan yang lebih keras dan tentunya berbahaya.

Aku tidak diam saja. Aku mencarinya sekuat tenaga, dengan berbagai cara, dan kemana-mana. Tapi tidak pernah menemukan titik terang. Junod tetap hilang.

Setiap di rumah melihat #TheAnjings yang lain, selalu ingat Junod. Gimana dia di luar sana? Di mana dia tidur? Amankah? Nyamankah? Apakah dia kelaparan, kedinginan, ketakutan? Aku merasa bersalah tidak bisa menemukannya.

Sehari, dua hari, tiga hari, seminggu… Junod tidak kembali.

Aku pasrah dan berusaha merelakan kehilangan Junod. Saat itu doaku ada dua. Jika Junod ditemukan orang, semoga dia menemukan keluarga baru yang menyayangi dia sepenuh hati, jika tidak, jangan biarkan dia mati saja. Bukan, aku bukan bermaksud jahat menginginkan dia mati. Aku tidak sampai hati kalau dia harus menjadi anjing jalanan dan menderita. Bukankah all dogs go to heaven? Tentu dia akan lebih aman di surga.

Di saat yang bersamaan, aku juga kehilangan pacar. Ya, pacarku bipolar. Dan dia tiba-tiba hilang, meninggalkanku tanpa kabar.

Bisa dibayangkan bagaimana kondisi hatiku saat itu? Remuk redam. Aku harus kehilangan makhluk-makhluk tercinta di saat yang bersamaan. Aku menyerah. Aku lelah.

Semenjak hari itu hidupku seperti robot. Semangatku padam. Tapi aku tidak bisa berhenti hidup. Aku melakukan rutinitas harianku seperti robot. Hingga membuat orang-orang di sekitarku jengah.

Seorang sahabat berkata. Semua diizinkan Tuhan terjadi karena alasan, untuk kebaikanmu, bukan untuk menyakitimu. Relakan, ikhlaskan, itu haknya Tuhan. Jika memang mereka cintamu, mereka pasti akan pulang, kembali padamu, karena kamulah cinta buat mereka, kamulah rumah bagi mereka.

Aku mengamininya. Aku ikhlas, merelakan mereka pergi. Sebenarnya aku takut berharap mereka kembali, aku takut kecewa jika ternyata mereka tidak kembali. Tapi aku tetap menyimpan keyakinan itu di sudut kecil hatiku yang paling dalam.

Aku mencoba menikmati hidupku. Tanpa mereka berdua.

Tepat 2 minggu Junod menghilang, ada sms masuk mengabarkan. JUNOD PULANG!!!! Ya, Junod kembali ke rumah, kembali padaku, menemukan cintanya, rumahnya.

Gak bisa dijelaskan gimana ekspresiku saat itu. Girang luar biasa. Rasanya ada tambahan daya yang mengaliri tubuhku, membuatku ingin segera pulang, memeluknya, menjaganya sepenuh hati, dan tidak akan membiarkan dia hilang lagi.

Itulah cinta menurutku. Jika kita mencintai dengan setulus hati, pasti cinta itu dengan mudah dirasakan, memberikan kita arah ke mana harus pulang, ke rumah.

Anyway, pacarku juga kembali seminggu setelah Junod pulang. Dan gak pernah kemana-mana lagi.

Aku sudah membuktikan teori ini.

Cinta, rumah, dan jalan pulang.

Ang

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *