Di balik kengerian yang tak terkatakan dan tak terbayangkan, masih ada kebahagiaan, cinta, dan harapan. Oogy – Larry Levin
Toko buku adalah tempat paling indah buat saya. Tenggelam di antara buku-buku yang menggiurkan untuk dibaca dan rasanya ingin membeli semuanya (tentu saja uang saya tidak cukup). Toko buku jugalah tempat pelarian saya jika sedang galau, membaca adalah pelarian yang menyenangkan, selain menulis tentunya.
Malam itu niatnya saya mau beli buku karangan presenter terkenal yang dipajang di rak ‘best seller’. Dari rumah udah niat mau beli itu, titik. Tapi di rak ‘best seller’ itu saya menemukan buku lain yang sampulnya lebih menarik buat saya. Ya gambar sampulnya adalah gambar seekor anjing yang mirip banget sama gentong (anjing saya).
Saya pun mulai tertarik dan mengambilnya. Oogy – anjing buruk rupa yang setia menemani perjalanan suka dan suka sebuah keluarga, itu judul di sampul depannya. Tanpa pikir panjang, saya tinggalkan si buku kuning yang awalnya mau saya beli tadi. Saya pun ke kasir, membayar empat puluh delapan ribu rupiah untuk Oogy.
Ada hal-hal yang membuat saya membeli buku ini tanpa pikir panjang. Yang pertama, buku ini berkisah tentang seekor anjing, ya tentu saja, saya pecinta anjing, dan saya suka membaca kisah-kisah tentang anjing (walau kadang gak tahan kalo ceritanya ternyata sedih melulu). Kedua, ini tentang anjing Dogo, seperti anjing saya, Gentong. Dan terakhir, ini sebuah kisah nyata, tentang seekor anjing yang benar2 ada, dan masih hidup hingga sekarang.
Penulis buku ini, Larry Levin, berkisah tentang anjing kesayangan keluarganya bernama Oogy. Oogy ini seekor ras Dogo argentino yang saat berusia 2 bulan diumpankan kepada sekawanan pitbull petarung. Ya, di daerah itu diceritakan judi pitbull memang marak.
Ringkas cerita, Oogy kecil mengalami sakit yang luar biasa akibat perbuatan manusia-manusia keji itu, dijadikan umpan. Wajah bagian kirinya hancur, telinganya terkoyak dan ‘hilang’, rahang bawahnya pun hancur. Tentunya bukan hanya luka fisik, batin seekor anjing kecil ini pun terluka, trauma.
Tapi, yang diangkat dari buku ini adalah. Walaupun anjing ini mengalami perlakuan manusia dengan begitu jahat dan kejam, tapi Oogy tetap tumbuh menjadi anjing yang penuh cinta. Dia sama sekali tidak menjadi buas terhadap manusia. Bahkan di saat lingkungannya masih mencemaskan kemungkinannya menjadi buas, Oogy selalu berusaha menunjukkan pada semua orang bahwa dialah anjing paling penuh kasih yang pernah kita jumpai.
Saya jatuh cinta pada buku ini. Saya merasa beruntung malam itu menuju rak ‘best seller’ dan menemukan buku dengan sampul warna putih dan bergambar seekor anjing buruk rupa. Saya jatuh cinta pada Oogy, dengan semua ‘pelajaran kasih’ yang dia berikan.
Buat yang gak suka anjing, yang hanya memandang anjing sebagai binatang, semoga bisa lebih terbuka pemahamannya tentang anjing jika membaca buku ini. Bahwa anjing bukan sekedar hewan yang merepotkan, yang hanya bisa merusak furniture di rumah (meja, remote TV, bahkan hape saya). Tapi anjing jauh lebih berharga dari itu semua, mereka adalah sahabat nomor 1 manusia, yang memberikan cinta dan perhatiannya 101% buat kita.
Ini dia foto Oogy





