30 hari menulis surat cinta

Seharusnya ini Surat Cinta

Teruntuk yang special bagiku, kamu.

Mungkin akhirnya hari ini aku sudah cukup mengumpulkan keberanian untuk menuliskan surat ini, padamu. Ini hari ke tiga puluh sejak pertemuan pertama kali kita.

Hampir satu tahun terakhir hidupku, aku mengalami masa yang teramat pelik, di mana kesedihan tak henti-hentinya mencekik, dan nyanyian cinta tak lagi terdengar menarik. Di masa itu aku menjalani hidupku seperti botol kosong yang mengapung-apung di lautan. Sepi, sendiri, dan tak tahu jalan. Aku tak bermaksud melebihkan, tapi kamu boleh tanya, begitulah perasaan orang-orang yang pernah rusak cintanya, dan terluka habis hatinya. Maka dari itu, tak berlebihan jika aku memutuskan untuk memagari diriku sendiri rapat-rapat, agar tak ada lagi siapapun yang mendekat.

Kemudian itu kamu, yang dengan tiba-tiba masuk ke hidupku.

Kamu tunjukkan aku binar-binar bahagia, melalui pesan-pesan singkat konyol bagai adegan rangga dan cinta. Kamu tunjukkan aku rupa-rupa mimpi, melalui pembicaraan kecil setiap hari. Kamu tunjukkan aku geliat-geliat harapan, melalui satu dua keping perhatian. Singkatnya, kamu tunjukkan aku kehidupan, hanya melalui sebuah senyuman di balik seragam Jakarta Raya.

Dari situ kamu ajari kembali aku kilau kemilau cinta dari sisi yang lebih sederhana. Memberi aku sebuah keyakinan, bahwa tak mustahil kembali memulai apa yang sebelumnya berderai dibungkus badai.

Kamu membuatku mengingat kembali bagaimana rasanya tertawa karena hal-hal yang sepintas tak bermakna. Bagaimana rasanya menyebutkan sebuah nama dalam setiap doa. Atau menjejali diri sendiri dengan beribu harap dan asa.

Karena hanya bersamamu, aku merasakan kembali bahagia yang meletup-letup. Ah ya.. hanya kamu lah yang sanggup. Dan betapa hatiku berderak-derak, memainkan lagu-lagu cinta hanya karena kita berjalan bersisian di Jamnas waktu itu.

Seharusnya ini surat cinta, bukan puisi atau prosa…

Tapi begitu harus menulis untukmu, tentangmu, otakku lalu beku. Aku tak tahu harus menulis apa, dan bagaimana. Semua kata-kata bermain di kepala, tapi hanya seperti roman-roman penuh kiasan belaka.

Setelah carut marut prolog yang mungkin terkesan rumit. Aku hanya bisa menulis sedikit saja untukmu, tentangmu, yang kuharap dapat kamu mengerti isinya…

Hai, Irvan Bejo Windarsono
Pernah mendengar kabar bahwa aku mencintaimu?
Sepertinya itu benar.

Ya, itu saja.

Inilah, yang seharusnya surat cinta dariku, untukmu. Yang aku harap akan hadir di garis akhir.
Karena kamu tahu? Aku berniat mencintaimu tanpa tapi, dan tanpa tepi.

ANG

A born leader and unique thinker, view the world differently and enjoy time alone to recharge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *