Barter.
Menurut Wikipedia.. Barter adalah kegiatan tukar-menukar barang atau jasa yang terjadi tanpa perantaraan uang. Tahap selanjutnya menghadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri mereka mencari dari orang yang mau menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang lain yang dibutuhkannya. Akibatnya barter, yaitu barang ditukar dengan barang. Pada masa ini timbul benda-benda yang selalu dipakai dalam pertukaran. Kesulitan yang dialami oleh manusia dalam barter adalah kesulitan mempertemukan orang-orang yang saling membutuhkan dalam waktu bersamaan. Kesulitan itu telah mendorong manusia untuk menciptakan kemudahan dalam hal pertukaran, dengan menetapkan benda-benda tertentu sebagai alat tukar. Sampai sekarang barter masih dipergunakaan pada saat terjadi krisis ekonomi di mana nilai mata uang mengalami devaluasi akibat hiperinflasi.
Dan jangan kira di 2010 ini, saat rupiah sudah ada di mana-mana, barter punah. Justru barter masih ada dalam kehidupan saya saat ini. Begini ceritanya…
Ayah saya seorang agen koran, yang juga melayani koran berlangganan untuk konsumen rumahan. Nah… ada seorang namanya Pak Samingun yang berlangganan koran JogloSemar. Koran Joglosemar ini sebulannya Rp 40.000,-. Berhubung Pak Samingun ini punya warung sate kambing terkenal di wilayah saya tinggal, maka setiap bulannya uang pembayaran JogloSemar ditukar langsung dengan produk kambing di warung Pak Samingun. Yah.. bisa sate kambing, bisa juga tongseng, sesuai selera lah… Barter kan namanya? Barter yang enak menurut saya yang doyan makan, hahahaha… Dan mulai saat ini bisa dipastikan bahwa setiap bulan minimal 1x saya dan keluarga pasti makan daging kambing. Tambah gizi. 🙂


