Aku suka membaca namamu muncul di notifikasi telepon masuk, dan mungkin tak akan kulihat lagi di handphoneku.
Aku suka mendengarkan suaramu ketika memanggilku bu, dan mungkin panggilan itu kini sudah tidak berlaku lagi.
Aku suka mendengar suara tawamu ketika puas membullyku, sungguh aku rela dibully hanya supaya mendengar lagi suara tawa renyah itu.
Aku suka menjawab pertanyaan-pertanyaan kepomu, aku sedang apa, di mana, sama siapa, dan mungkin tidak akan lagi kamu tanyakan.
Aku suka melihat ke dalam mata cokelatmu, mata sipit yang tidak pernah berhasil mengerling kepadaku, yang mungkin tidak akan pernah bisa kutemui lagi.
Aku suka mendengar komplainmu ketika merasa tidak diprioritaskan, yang kini mungkin tidak akan kau minta lagi.
Aku suka membalas pesanmu yang selalu tidak bermutu itu, pesan yang sekarang tidak pernah datang.
Aku suka bibir lembutmu yang bagaikan gerimis bercampur gula, yang sekarang tidak bisa kurasakan lagi.
Aku suka senyummu, senyum yang langsung membuatku jatuh cinta kepadamu ketika pertama kali bertemu, senyum yang entah kapan bisa kulihat lagi.
Aku suka dengan kebodohan-kebodohanmu yang sekarang sudah tidak bisa kujadikan bahan membullymu. Ah.. aku kangen masa-masa itu.
Aku suka perut buncitmu, lengan besarmu, leher yang wangi, yang kini tidak bisa kurengkuh, tidak bisa memelukku lagi.
Aku suka ketegasanmu terhadapku, sikap galakmu yang mungkin yang kelak menjadi yang paling kurindukan dari kamu.
Aku suka ceritamu tentang bis, masih ingat kisah Cebong Jaya di perjalanan kita dari Dieng? Aku masih ingat. Dan sekarang pengetahuanku tentang bis menurun tanpa ceritamu.
Aku suka kegugupanku ketika berada di dekatmu, dan kini aku tidak akan bersikap gugup lagi karena kamu sudah jauh dariku.
Aku suka kesombonganmu yang sangat merasa dicintai aku, dan sekarang aku tidak perlu pura-pura tidak butuh kamu lagi.
Aku suka keluhan-keluhanmu, sehingga aku merasa berguna buatmu, dan mungkin kini nasehat-nasehatku sudah tidak ada gunanya buatmu.
Aku suka dengan kebahagiaanku yang tiada tara setiap menyambut kepulanganmu di terminal pagi itu, dan sekarang aku tidak perlu bangun pagi lagi untuk menjemputmu.
Aku suka melihatmu makan dengan lahap seperti tidak pernah makan, dan pemandangan lucu itu mungkin tidak akan bisa kulihat lagi.
Dan masih banyak yang aku suka dari kamu. Apapun yang ada pada dirimu, baik maupun buruk entah kenapa semua aku suka, Aku terlalu suka kamu.
Aku suka kamu, tapi sekarang aku sedang berusaha untuk tidak suka kamu lagi, karena ternyata kamu tidak pernah suka aku.
Aku tidak pernah bisa mengerti sikapmu.
Aku tidak bisa membaca sorot matamu.
Aku tidak bisa menebak isi hatimu.
Dan sedihnya, aku tidak bisa berhenti menyukaimu.
Semakin aku berusaha melupakan kamu, justru semakin aku rindu dan memimpikanmu di malam-malam panjangku.
Katakan aku harus bagaimana, hai kamu?
Aku tidak tahu kenapa usaha untuk tidak menyukaimu lagi bisa sesulit ini.
Aku suka kamu.
ps. Jangan lupa kurangin rokok dan kopi demi kesehatanmu.
ANG
