Februari sudah datang lagi. Ternyata tiga ratus enam puluh lima hari begitu cepat berlalu, dan 30 hari menulis surat cinta dimulai kembali.
Surat pertama kali ini kuberikan untuk yang utama, Sang Pemilik alam semesta beserta isinya. Sang penulis cerita hidupku yang penuh rona tawa, suka, maupun duka. Yang Maha Mengetahui sedalam-dalamnya hatiku.
Tuhan,
Terima kasih untuk drama setahun ini. Skenariomu luar biasa, dan aku cukup lumayan bermain peran kan? Februari tahun lalu aku masih terseok-seok menangisi laki-laki yang mengingatku saja tak mau. Dan siapa yang pernah menyangka Februari kali ini aku bisa sebahagia ini? Sesungguhnya memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama aku memiliki-Mu.
Kali kedua, kali ini aku tahu Kau memberikanku kesempatan kedua Tuhan, mendampingi laki-laki luar biasa yang… we know lah. Aku janji untuk menjaganya sepenuh hati, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang sudah Tuhan beri. Aku buktikan kali ini aku bisa melayakkan diri dan mendampinginya sepanjang usia. Kali ini aku berusaha dan berdoa, meminta restu-Mu. Bukankah niat baik pasti Engkau berkati?
Ingatkan aku ya Tuhan untuk selalu belajar berserah dan tidak sombong, mengandalkan kekuatanku sendiri. Maaf kalo beberapa minggu ini aku malas dan terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Ajarkan aku untuk lebih sering bersyukur dan berdialog dengan-Mu. Senantiasa mengucap syukur dan memohon berkat setiap memulai hari hingga malam datang kembali.
Aku mencintai-Mu Tuhan. Ajarkan aku mencintai seperti cinta-Mu. Karena kasih-Mu tak jauh dalam jiwaku. Di dalam kesesakan, di dalam kemenangan, ku tahu Engkau selalu bersamaku.
ANG
